IDXChannel - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa pengelolaan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) dilakukan secara hati-hati dan prudent, sehingga defisit diproyeksikan masih dalam batas aman di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, postur APBN dalam kondisi yang kokoh, sehingga sebagian pihak keliru jika mengaitkan kredibilitas fiskal dengan pelemahan kurs rupiah yang terjadi belakangan ini. Dia mengungkapkan, defisit APBN hingga Mei 2026 masih di kisaran 0,7 persen terhadap PDB.
"Besok ada APBN KiTA. Anda boleh tanya lagi di situ, saya jelaskan lagi. Kalau enggak saya ngulang lagi. Tapi pada dasarnya aman. Di bulan Mei, defisitnya naik sedikit dibanding April ke 0,7 persen. Tapi kalau itu kan 5 bulan, yang itu kan 4 bulan. Kalau kita hitung 12 per 5 kali 0,7, kasarannya ya 1,8 persen ke PDB, rasio defisitnya. Jadi kalau hitungan kasar sampai itu aman," ujar Purbaya di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Purbaya menilai, pelemahan kurs rupiah berdampak pada APBN, termasuk pembayaran utang yang berdenominasi dolar AS. "Pada waktu rupiah melemah ya meningkat, kan dalam rupiah pembayarannya," katanya.
Meski nilainya meningkat dalam bentuk rupiah, dia memastikan struktur anggaran tidak akan menghadapi guncangan yang ekstrem. Pasalnya, kupon pembayaran bersifat tetap (fixed rate), sehingga fluktuasi hanya terjadi di level nominal pokok dan cicilan, bukan kupon.
Pernyataan tersebut kembali menegaskan apa yang diutarakan Purbaya pada Rabu (4/6/2026). Dia membantah tudingan bahwa pengelolaan APBN saat ini ugal-ugalan, sehingga menyebabkan investor asing melepas rupiah dan menukarnya dengan dolar AS.
Pada momen yang sama, Ketua LPS periode 2020-2025 itu juga menepis kabar lembaga pemeringkat internasional, Standar & Poor's (S&P) akan menurunkan (downgrade) rating surat utang Indonesia yang saat ini berada di level BBB dengan outlook stabil. Dia menyebut, dirinya baru akan bertemu dengan perwakilan S&P malam ini.
“Saya pikir banyak rumor di dalam negeri yang pasti ketika S&P datang ke sini, ada rumor S&P akan men-downgrade. Padahal saya baru mau ketemu nanti malam,” katanya.
Purbaya mengungkapkan, dirinya juga telah berdiskusi dengan perwakilan S&P saat mengadakan kunjungan kerja di Amerika Serikat (AS) beberap waktu lalu. Dari dialog tersebut, dia yakin S&P memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dan positif atas APBN dan kondisi perekonomian domestik.
"Kalau melihat kondisi fiskal kita, saya sih enggak ada masalah," imbuhnya.
(Rahmat Fiansyah)