IDXChannel - Kementerian Keuangan menepis isu bahwa pengelolaan APBN yang tidak kredibel menjadi penyebab kurs rupiah terus tertekan terhadap dolar AS. Hingga Rabu (3/6/2026), kurs rupiah nyaris mendekati level psikologis baru Rp18.000 per dolar AS.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa membantah tudingan bahwa melemahnya rupiah karena kebijakan fiskal bermasalah. Dia justru mengungkapkan, kondisi APBN saat ini semakin baik dan sehat, tercermin dari defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang terus menyempit.
"Enggak ada (hubungannya). Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang (rupiah melemah) gara-gara fiskalnya berantakan. Nanti kita ketemu kapan? Minggu depan? Ada update fiskal bulanan itu, fiskal APBN kita. Itu bulan Mei membaik dibanding bulan April," katanya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Purbaya membocorkan bahwa angka defisit APBN hingga Mei 2026 masih terjaga di level 0,7 persen terhadap PDB. Angka ini masih terkendali mengingat defisit pada April berada di level 0,64 persen dan Maret berada di kisaran 0,93 persen.
"Kalau saya kasih bocoran, itu defisitnya tinggal 0,7 (persen) dalam 5 bulan. Kalau kita hitung cara para ekonom yang di luar itu menghitung, sekian bulan kali sekian bulan saya hitung, ikutin aja. 12 per 5 kali 0,7 (persen) kira-kira, kalau saya enggak salah hitung ya, (akhir tahun) 1,7-1,8 persen dari PDB. Jadi kalau di situ anggaran kita aman sekali. Cuma orang enggak akan pakai itu kan sekarang. Pasti mereka akan lihat yang paling jelek," katanya.