Selain defisit, Purbaya juga menyebut, keseimbangan primer hingga Mei 2026 kembali surplus. Hal ini tidak terlepas dari pendapatan negara yang terus tumbuh.
"Bulan Mei juga surplusnya, primary surplusnya positif lagi, lebih tinggi dibanding bulan April dan pendapatan pajak kita lebih bagus dibanding tahun lalu. Tumbuhnya 22 persen lebih. Jadi reformasi di perpajakan sudah menghasilkan peningkatan pendapatan perpajakan yang amat signifikan, sehingga anggaran kita amat aman," tuturnya.
Ketua LPS periode 2020-2025 itu menilai, pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh rumor yang bergerak liar. Salah satu rumor yang beredar yakni adanya instruksi agar perbankan nasional segera melakukan stress test (uji ketahanan) menghadapi skenario rupiah di atas Rp18.000. Purbaya secara langsung membantah spekulasi tersebut.
"Kalau kita lihat kan tiba-tiba aja pelemahannya 1-2 hari ini kan, arena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar. Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan stress test kalau rupiahnya Rp18.000 lebih. Padahal saya nggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif," katanya.
Menghadapi situasi tersebut, Purbaya menegaskan fokus utamanya saat ini adalah memperkuat fondasi riil perekonomian domestik demi menyokong stabilitas mata uang dalam jangka panjang.