AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/09/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.43
-0.46%
-2.48
IHSG
7127.50
-0.71%
-51.08
LQ45
1020.20
-0.53%
-5.44
HSI
17855.14
-0.44%
-78.13
N225
26548.61
0.44%
+117.06
NYSE
13580.39
-1.57%
-216.61
Kurs
HKD/IDR 1,925
USD/IDR 15,125
Emas
790,953 / gram

Pusing Akibat Inflasi, Sri Mulyani: Harga Tak Bisa Ditahan Selamanya

ECONOMICS
Michelle Natalia
Kamis, 11 Agustus 2022 19:07 WIB
Menkeu Sri Mulyani mengakui bahwa dirinya tidak bisa berhenti memikirkan terkait inflasi yang kian meningkat.
Menkeu Sri Mulyani mengakui bahwa dirinya tidak bisa berhenti memikirkan terkait inflasi yang kian meningkat.
Menkeu Sri Mulyani mengakui bahwa dirinya tidak bisa berhenti memikirkan terkait inflasi yang kian meningkat.

IDXChannel - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengakui bahwa dirinya tidak bisa berhenti memikirkan terkait inflasi yang kian meningkat. Permasalahannya, inflasi dari kelompok bahan makanan mencapai 11,5%, ini yang tidak bisa diatur oleh pemerintah. 

"Memang kelompok harga yang bisa diatur oleh pemerintah, seperti misalnya bensin hingga listrik bisa ditahan, tapi tidak semuanya bisa dikendalikan. Contohnya ya, harga dampak dari kenaikan harga bensin," ungkap Sri dalam konferensi pers APBN KITA Edisi Agustus di Jakarta, Kamis(11/8/2022). 

Dia pun menyoroti kenaikan bagian administered price sebesar 6,5%, harga energi dan juga tiket transportasi, misalnya tiket pesawat terbang yang mengalami kenaikan. 

"Saya minta semua jajaran waspada, karena krisis pangan dan energi sekarang, dan juga dampaknya, itu tidak semuanya bisa dikompensasi oleh pemerintah. Tidak bisa selamanya (harganya) ditahan dengan krisis energi dan pangan saat ini," terang Sri. 

Hingga saat ini, dia menyebutkan bahwa anggaran pemerintah untuk subsidi energi sudah membengkak hingga Rp502 triliun.

"Ini kalau tidak dikeluarkan atau ditahan, tentu harga energi akan jauh lebih tinggi dari 6,5," pungkasnya. 

(NDA) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD