"Hingga hari ini, Danantara telah berhasil merampingkan dan menutup 364 perusahaan BUMN yang merugi atau tidak efisien. Ini merupakan restrukturisasi korporasi terbesar yang pernah dilakukan di dunia, dari 1.074 perusahaan disederhanakan hingga nantinya di bawah 200 perusahaan," kata Dony.
Selain menyederhanakan jumlah badan hukum, pembenahan selama 1 tahun 8 bulan terakhir difokuskan pada perombakan model bisnis. Pada BUMN pupuk bersubsidi, skema lama cost-plus yang menanggung biaya produksi pemerintah ditambah marjin 7 persen sehingga memicu pemborosan diubah total menjadi mekanisme berbasis harga pasar (mark-to-market).
Hasilnya, Pupuk Indonesia mampu membangun delapan pabrik baru, menekan biaya, mempertebal marjin, serta mendongkrak laba bersih lebih dari 200 persen dalam enam bulan. Kinerja positif serupa ditunjukkan Semen Indonesia dengan lonjakan laba bersih 427 persen pascareformasi model bisnis, disusul perbaikan performa solid di tubuh Danareksa dan PTPN III.
Di sektor energi, integrasi dilakukan dengan menggabungkan tiga anak usaha hilir Pertamina, yakni Pertamina Patra Niaga, Pertamina International Shipping (PIS), dan Kilang Pertamina Internasional (KPI). Peleburan ini secara efektif menghapus praktik transaksi bertingkat yang saling mengambil keuntungan antarsesama anak usaha di internal grup.
Integrasi lini hilir minyak dan gas tersebut terbukti memangkas rantai pasok logistik yang selama ini menjadi sumber pemborosan anggaran operasional. Efisiensi struktural ini memberikan ruang penghematan devisa dalam jumlah besar bagi kas entitas energi pelat merah tersebut.