IDXChannel – Industri plastik nasional mulai mendorong berbagai inovasi dalam proses produksi menyusul terganggunya pasokan bahan baku utama berupa nafta. Kondisi ini dipicu ketidakpastian geopolitik global yang berdampak pada rantai pasok, terutama dari kawasan Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono mengatakan pelaku industri perlu melakukan inovasi baik di sektor hulu maupun hilir untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Menurut dia, sebagian besar pasokan bahan baku plastik masih berasal dari kawasan Timur Tengah yang saat ini terdampak konflik, sehingga distribusinya menjadi tidak lancar.
Salah satu strategi yang bisa dilakukan produsen adalah meningkatkan penggunaan material daur ulang yang dicampur dengan bahan baku baru (virgin). Langkah ini dinilai dapat membantu menekan biaya produksi sekaligus menjadi alternatif dalam proses pembuatan plastik.
“Produsen bisa meningkatkan kandungan daur ulang dengan material virgin untuk menekan biaya produksi,” ujar Fajar kepada iNews Media Group, Minggu (5/4/2026).
Selain itu, produsen juga dapat mencari alternatif substitusi bahan plastik, termasuk dengan mencampurnya dengan material lain. Dalam sejumlah produk seperti peralatan rumah tangga atau karung, bahan plastik dapat dicampur dengan filler seperti kapur, talek, atau silika.
“Campuran filler tersebut bisa ditingkatkan sehingga biaya produksi turun tanpa mengurangi fungsi utama produk plastik,” katanya.
Penyesuaian juga dapat dilakukan pada ukuran produk plastik yang diproduksi. Produsen dapat mengurangi berat, ketebalan, maupun dimensi kemasan agar biaya produksi lebih efisien.
Sebagai contoh, kemasan makanan ringan yang sebelumnya memiliki ketebalan 100 mikron dapat dikurangi menjadi sekitar 80 mikron. Penyesuaian ini dapat menekan penggunaan bahan baku hingga 20 persen, meskipun masa simpan produk sedikit berkurang.
Di sisi hulu, industri juga didorong untuk mencari alternatif bahan baku selain nafta dengan memperbarui teknologi produksi. Beberapa opsi yang dinilai potensial antara lain penggunaan kondensat, LPG, maupun propana.
Fajar menilai kondensat sebenarnya tersedia di dalam negeri, namun perlu pemetaan lebih lanjut mengenai lokasi, jumlah pasokan, serta waktu pemanfaatannya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan LPG sebagai bahan baku alternatif dalam industri petrokimia. Saat ini LPG masih dikenakan bea masuk karena selama ini lebih banyak digunakan sebagai sumber energi.
“Padahal LPG bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif industri petrokimia. Karena itu kami berharap pemerintah dapat mengkaji ulang kebijakan terkait penggunaan LPG atau propana sebagai bahan baku,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fajar menilai inovasi di sektor hulu dan hilir industri plastik juga akan berdampak pada rantai pasok hingga ke tingkat pedagang, termasuk usaha mikro dan kecil di pasar tradisional maupun pertokoan.
Meski demikian, ia tidak menampik adanya potensi kenaikan harga produk plastik di pasaran setelah periode Idulfitri. Menurutnya, harga kemungkinan akan bergerak menuju titik keseimbangan baru seiring perubahan kondisi pasar.
“Yang jelas harga akan menemukan keseimbangan baru. Tidak mungkin kembali seperti sebelum krisis akibat perang ini,” kata Fajar.
(Shifa Nurhaliza Putri)