Lebih jauh, Olivia menjelaskan, kondisi ini juga menciptakan fenomena yang dikenal sebagai fiscal illusion, di mana masyarakat merasakan harga energi yang murah, padahal biaya sebenarnya tetap harus dibayar melalui mekanisme fiskal, baik saat ini maupun di masa depan.
Selain membebani anggaran, risiko lain yang mengintai adalah potensi lonjakan harga yang lebih tajam di kemudian hari. Jika tekanan fiskal sudah tidak lagi mampu ditahan, pemerintah terpaksa melakukan penyesuaian harga secara signifikan dalam waktu singkat.
Dia melihat pengalaman negara lain menjadi pelajaran penting. Venezuela, misalnya, mempertahankan harga BBM sangat rendah selama bertahun-tahun hingga akhirnya mengalami tekanan fiskal berat. Sementara itu, Mesir harus melakukan reformasi subsidi pada 2014 yang berujung pada kenaikan harga energi secara drastis.
Maka dari itu, kata Olivia, pemerintah perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam pola serupa. Menurutnya, kebijakan penahanan harga sebaiknya bersifat sementara dan disertai strategi transisi yang jelas.
Dia menambahkan, pemerintah perlu mulai menyiapkan langkah penyesuaian secara bertahap agar tidak menimbulkan shock besar bagi masyarakat. Transparansi terkait biaya energi juga dinilai penting agar publik memahami kondisi yang sebenarnya.
“Stabilnya harga BBM saat ini bukan berarti kita kebal terhadap gejolak global. Ini lebih kepada penundaan beban ekonomi. Cepat atau lambat, biaya tersebut tetap harus ditanggung,” kata dia.
(Dhera Arizona)