IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (15/6/2026), naik 151 poin atau sekitar 0,85 persen ke level Rp17.708 per dolar AS.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan mereka telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan melanjutkan lalu lintas melalui Selat Hormuz.
“AS dan Iran akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat, kata Perdana Menteri Pakistan, yang negaranya telah bertindak sebagai mediator. Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa Selat Hormuz akan dibuka ‘bebas biaya’ dan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran juga akan berakhir,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, mengatakan draf kesepakatan tersebut menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan Iran. Dunia telah kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas sejak perang menutup Selat Hormuz, titik penting bagi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, selama lebih dari tiga bulan.
Investor juga mengamati dengan hati-hati seberapa cepat produsen Timur Tengah dapat melanjutkan produksi dan ekspor minyak setelah kerusakan akibat perang dan apakah lebih banyak kapal akan memasuki wilayah tersebut. Wamenlu Iran mengatakan kesepakatan yang lebih luas akan dinegosiasikan selama periode gencatan senjata 60 hari.
Negara-negara E4, yang meliputi Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia, mengatakan pada Minggu bahwa negara-negara tersebut siap untuk mencabut sanksi terhadap Iran sebagai tanggapan atas langkah-langkah terkait program nuklirnya.
Pada pekan ini, perhatian pasar akan tertuju pada pengumuman kebijakan terbaru dari beberapa bank sentral dengan fokus utama keputusan kebijakan moneter The Fed, yang pertama dipimpin oleh Ketua barunya Kevin Warsh.
Bank sentral seperti Reserve Bank of Australia (RBA) dan European Central Bank (ECB) telah menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 75 dan 25 basis poin selama tahun ini. Namun, penyelesaian konflik yang cepat mungkin mencegah bank sentral lain, seperti Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Bank of England (BoE), dan Federal Reserve (Fed), untuk memperketat kebijakan.
Dari sentimen domestik, turunnya harga minyak mentah dunia di bawah US80 per barel akan menjadi faktor positif bagi domestik karena diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap defisit APBN, membuat pemerintah senang dan ketegangan berubah menjadi kegembiraan.
Selain itu, pasar mencermati potensi efisiensi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah putih sebesar 50 persen.
Dengan kondisi global yang kembali stabil, masyarakat berbondong-bondong menjual valuta asingnya sesuai dengan instruksi Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengimbau masyarakat yang menyimpan dolar AS agar segera menjual atau menukarkannya menjadi rupiah.
Langkah ini diharapkan dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat menyentuh rekor terendah di kisaran Rp18.200 per dolar AS. Langkah tersebut tepat dilakukan karena pemerintah tengah menyiapkan sejumlah strategi khusus untuk menguatkan rupiah.
Fokus beralih ke pertemuan kebijakan Bank Indonesia akhir pekan ini, BI telah mengambil langkah pengetatan lanjutan pada 9 Juni 2026 dengan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen, menjadikan total kenaikan sejak Mei mencapai 75 bps. Langkah pre-emptive ini dioptimalkan untuk melindungi nilai tukar rupiah dari gejolak global dan menahan keluarnya arus modal asing (capital outflow).
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup menguat dalam rentang Rp17.650-Rp18.700 per dolar AS.
(Febrina Ratna Iskana)