Penyebab utama tekanan terhadap Rupiah berasal dari memanasnya kembali suhu geopolitik di Timur Tengah. Harapan pasar akan gencatan senjata antara AS dan Iran yang sempat menguat kini meredup setelah pertempuran kembali pecah, yang mengancam stabilitas pasokan energi serta pembukaan Selat Hormuz.
Selain faktor perang, perbedaan pandangan di internal bank sentral AS (The Fed) turut membingungkan pasar.
Sementara pejabat The Fed Cleveland, Beth Hammack, melihat suku bunga akan stabil, Presiden The Fed Minneapolis, Neel Kashkari, justru khawatir terhadap inflasi yang masih tinggi. Pasar kini menantikan data tenaga kerja AS bulan April untuk menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan.
"Para ekonom memperkirakan peningkatan 62.000 pekerjaan di AS untuk bulan April, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen. Laporan ini mungkin akan menentukan langkah selanjutnya Federal Reserve (Fed) terkait kebijakan suku bunga," kata Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari laporan posisi utang pemerintah. Data Bank Indonesia (BI) mencatat total utang pemerintah per 31 Maret 2026 telah menembus angka Rp9.920,42 triliun.
Angka tersebut mengalami kenaikan hampir 3 persen jika dibandingkan posisi Desember 2025 yang sebesar Rp9.637,9 triliun.
Dengan capaian ini, rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir kuartal I-2026 tercatat berada di level 40,75 persen. Kondisi beban fiskal ini menjadi perhatian pasar yang turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap mata uang domestik.
(Nur Ichsan Yuniarto)