IDXChannel – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan keberadaan industri sawit berperan penting dalam perekonomian, tidak hanya di sektor pangan tetapi juga energi. Hal ini sejalan dengan bakal diterapkannya program campuran biodiesel 50 persen atau B50 pada Juli 2026.
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementan Kuntoro Boga Andri mengatakan, dalam konteks global, sawit Indonesia memiliki kontribusi sebanyak 62 persen dalam pasokan sawit dunia dan memiliki kontribusi lebih dari 54 persen dibandingkan minyak nabati dunia.
“Sawit produktivitasnya sendiri lebih besar 5-10 dibandingkan minyak nabati lainnya,” ujar Kuntoro dalam acara 1st International Environment Forum (IEF) di Jakarta, Rabu (22/4/26).
Terkait penyelenggaraan IEF 2026, hal ini diharapkan menjadi penegas sekaligus pengingat bagi para pelaku usaha sawit terhadap isu lingkungan, iklim, dan deforestasi. Lahan sawit disebutkan bukan deforestasi karena para pelaku industri sawit wajib memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sesuai dengan Permentan Nomor 33 Tahun 2025 dimana di dalamnya mengatur aspek lingkungan serta tata kelola lahan secara legal.
“Standar yang kita berikan bisa diakui oleh negara lain. Sebagai produsen sawit terbesar dunia, pada dasarnya kita memiliki nilai keberlanjutan yang sama secara universal. Sawit ramah terhadap lingkungan yang kita pijaki dan memberikan impact positif pada lingkungan dan keberlanjutan,” ujar Kuntoro.
Sementara itu, merespons adanya peristiwa banjir bandang di wilayah Sumatera beberapa waktu lalu, akademisi Sudarsono Soedomo dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) menilai penyebabnya dipahami secara simplistik karena adanya tekanan publik sehingga memaksa pemerintah untuk mendorong pencarian pihak.
“Sebetulnya banyak orang yang tidak percaya dengan narasi sawit penyebab banjir. Tetapi ketika narasinya sudah tersebar luas, tidak ada yang berani menyanggah,” kata Sudarsono.
Sudarsono dalam paparannya menjelaskan bahwa penyebab banjir di berbagai wilayah Sumatera dan Aceh akhir 2025 lalu disebabkan oleh curah hujan yang sangat ekstrem.
“Banjir terjadi ketika run-off melebihi kapasitas sistem dan kalau masuk ke sungai secara berlebihan terjadilah banjir. Peran hutan memanglah intersepsi hujan, meningkatkan infiltrasi, dan meningkatkan air tanah untuk menunda aliran permukaan (lag ime) dan sangat efektif pada kondisi hujan normal. Namun, ketika hujannya sangat ekstrem seperti di Sumatera, hutan ada batas dan masalahnya juga,” ujarnya.
Diketahui, kapasitas hujan yang terjadi dalam waktu 1-2 hari pada saat itu mencapai 411 mm. Padahal, dalam jumlah tersebut biasanya terjadi dalam 2-3 bulan. “Ahli hidrologi menyebut bahwa hujan seperti itu terjadi 400-500 tahun sekali. Jadi, dalam kondisi seperti itu, hutan pun tak akan tahan,” kata dia.
Sekadar diketahui, berdasarkan data publikasi statistik Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, pada 2025-2026 Indonesia memiliki luas areal kelapa sawit terbesar dunia yakni mencapai 16,83 juta hektare.
Tak hanya menjadi penyumbang devisa non migas terbesar dengan nilai sekitar Rp440 triliun pada 2024, industri sawit telah menyediakan lapangan kerja bagi 16 juta orang serta menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi lokal dengan kewirausahaan berbasis komoditas perkebunan.
(Dhera Arizona)