“Standar yang kita berikan bisa diakui oleh negara lain. Sebagai produsen sawit terbesar dunia, pada dasarnya kita memiliki nilai keberlanjutan yang sama secara universal. Sawit ramah terhadap lingkungan yang kita pijaki dan memberikan impact positif pada lingkungan dan keberlanjutan,” ujar Kuntoro.
Sementara itu, merespons adanya peristiwa banjir bandang di wilayah Sumatera beberapa waktu lalu, akademisi Sudarsono Soedomo dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) menilai penyebabnya dipahami secara simplistik karena adanya tekanan publik sehingga memaksa pemerintah untuk mendorong pencarian pihak.
“Sebetulnya banyak orang yang tidak percaya dengan narasi sawit penyebab banjir. Tetapi ketika narasinya sudah tersebar luas, tidak ada yang berani menyanggah,” kata Sudarsono.
Sudarsono dalam paparannya menjelaskan bahwa penyebab banjir di berbagai wilayah Sumatera dan Aceh akhir 2025 lalu disebabkan oleh curah hujan yang sangat ekstrem.