Sebagai negara dengan kontribusi manufaktur mencapai 20,3 persen terhadap PDB dan tingkat swasembada pangan menyentuh 96 persen pada tahun 2024, Belarus dinilai mampu membantu mempercepat modernisasi sektor pertanian di tanah air.
Merespons hal tersebut, Perdana Menteri Alexander Turchin menegaskan komitmen penuh Belarus untuk mempererat hubungan ekonomi. Guna mempermudah koordinasi dan memperlancar hubungan diplomatik kedua negara, PM Turchin juga menyatakan dukungannya terhadap rencana pembukaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Minsk.
Selain sektor pangan dan industri, fokus pembahasan kedua pemimpin tertuju pada implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I–EAEU FTA) yang telah resmi ditandatangani pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg.
Melalui kesepakatan bebas bea ini, Indonesia berharap Belarus dapat menjadi pintu masuk utama bagi produk-produk ekspor nasional untuk menembus pasar Eurasia Timur secara lebih efisien.
Perjanjian dagang ini menjadi bukti nyata komitmen kedua belah pihak dalam membangun kemitraan perdagangan yang terbuka, inklusif, serta saling menguntungkan.