Di balik kemudahan pemasangannya, BIP mengandalkan presisi sebagai salah satu kekuatan utama. Bata ini memiliki dimensi 25 cm × 12,5 cm × 10 cm dengan pengendalian toleransi hingga 1 milimeter. Kepresisian tersebut membuat proses penyusunan bata lebih mudah sekaligus menghasilkan dinding yang rapi. BIP juga dapat digunakan untuk kebutuhan tampilan ekspos sebagai bagian dari estetika rumah, maupun non-expose yang kemudian dilapisi dengan material finishing.
“Presisi menjadi bagian penting dari teknologi ini. Ketika ukuran dan sudut setiap bata terjaga, proses pemasangan menjadi lebih cepat dan hasil dinding lebih rapi. Jadi, efisiensi tidak hanya terjadi pada waktu pembangunan, tetapi juga pada kualitas hasil akhirnya," ujar dia.
Keunggulan BIP menjadi semakin relevan bagi Indonesia yang berada di kawasan rawan gempa. Sistem interlocking pada bata dirancang untuk memperkuat kait antarbata, sementara elemen tertentu dapat difungsikan sebagai ring balok dan kolom praktis dengan penggunaan tulangan dan mortar setiap 80–120 cm. BIP juga mampu menahan tekanan hingga minimal 70 kg/cm².
SIG mengeklaim bahwa BIP telah lolos Uji Siklik Dinding Bata Interlock dan Modular 2D dari PUSKIM sesuai SNI 1726-2012 untuk Rumah PIB, memperoleh sertifikat Kliring Teknologi Rumah Bata Interlock dari Ditjen Cipta Karya PUPR, serta telah mendapat persetujuan Kementerian PUPR dan BNPB untuk rumah tahan gempa.
“Dalam konteks daerah rawan gempa maupun pemulihan pascabencana, kecepatan membangun rumah menjadi sangat penting. Teknologi seperti BIP dapat menjadi salah satu alternatif untuk mempercepat penyediaan hunian dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan ketahanan bangunan," kata Dicky.
(NIA DEVIYANA)