AALI
8125
ABBA
585
ABDA
0
ABMM
1300
ACES
1295
ACST
260
ACST-R
0
ADES
2380
ADHI
720
ADMF
7600
ADMG
224
ADRO
1260
AGAR
400
AGII
1700
AGRO
2820
AGRO-R
0
AGRS
226
AHAP
57
AIMS
426
AIMS-W
0
AISA
216
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
620
AKRA
3540
AKSI
440
ALDO
630
ALKA
232
ALMI
254
ALTO
308
Market Watch
Last updated : 2021/07/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
443.89
-0.84%
-3.74
IHSG
6091.75
-0.09%
-5.30
LQ45
831.47
-0.76%
-6.35
HSI
25113.94
0.11%
+27.51
N225
27620.68
-1.25%
-349.54
NYSE
16520.96
-0.27%
-44.35
Kurs
HKD/IDR 1,860
USD/IDR 14,495
Emas
840,998 / gram

Sri Mulyani Ungkap Penerimaan Pajak Lagi Seret

ECONOMICS
Rina Anggraeni/Sindonews
Selasa, 23 Februari 2021 17:22 WIB
Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak sampai akhir tahun hanya mencapai Rp68,5 triliun atau baru mencapai 5,6% dari target APBN 2021.
Sri Mulyani Ungkap Penerimaan Pajak Lagi Seret (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Kementerian Keuangan mencatat penerimaan pajak sampai akhir tahun hanya mencapai Rp68,5 triliun atau baru mencapai 5,6% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 sebesar Rp 1.229,6 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani  mengatakan, penerimaan pajak memang mengalami kontraksi sebesar 15,3%  pada awal tahun ini. Hal yang sama juga terjadi tahun lalu, di mana penerimaan pajak tercatat sebesar Rp80,8 triliun atau tumbuh negatif 6,1 persen dari tahun sebelumnya.

“Penerimaan pajak Rp68,5 triliun itu kontraksi 15,3 persen. Januari tahun lalu penerimaan pajak juga sebenarnya mengalami kontraksi 6,1 persen," kata dia dalam video conference di Jakarta, Selasa, (23/2/2021).

Sri Mulyani mengungkapkan,  kontraksi penerimaan pajak disebabkan oleh menurunnya penerimaan Pajak Penghasilan (PPh) migas menjadi Rp2,3 triliun. Penerimaan PPh migas tercatat mengalami kontraksi 19,8%  dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp2,9 triliun.

"Kalau kita lihat di sini adalah penerimaan migas yang Rp2,3 triliun itu mengalami kontraksi 19,8 persen karena harga migas kita dibandingkan Januari tahun lalu meski sudah di atas asumsi (APBN) itu masih di bawah kondisi harga minyak di 2020," jelasnya

Selain itu, penurunan penerimaan pajak juga terjadi dari sisi penerimaan PPh nonmigas sebesar Rp39 triliun atau terkontraksi 15,8 persen. Untuk pajak nonmigas, penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga kontraksi 14,9%  menjadi Rp26,3 triliun.

Sedangkan, penerimaan kepabeanan dan cukai tercatat sebesar Rp12,5 triliun atau naik 175,3 persen dari tahun sebelumnya yang hanya Rp4,5 triliun. Meski demikian, penerimaan kepabeanan dan cukai baru 5,8%  dari target Rp215 triliun dalam APBN 2021.

"Terlihat kenaikan yang sangat tinggi, terutama untuk cukai yang kita mendapatkan Rp9 triliun sendiri dibandingkan tahun lalu bulan Januari yang hanya Rp1,5 triliun, dan juga yang positif bea keluar yang mencapai Rp1,1 triliun yang melonjak sangat tinggi tahun lalu hanya Rp100 miliar," pungkasnya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD