AALI
11250
ABBA
74
ABDA
6500
ABMM
755
ACES
1525
ACST
390
ACST-R
0
ADES
1670
ADHI
1470
ADMF
8500
ADMG
174
ADRO
1185
AGAR
428
AGII
1355
AGRO
1375
AGRO-R
0
AGRS
446
AHAP
60
AIMS
133
AIMS-W
0
AISA
306
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
494
AKRA
3380
AKSI
750
ALDO
450
ALKA
238
ALMI
264
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/03/01 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
515.72
2.42%
+12.19
IHSG
6338.51
1.55%
+96.72
LQ45
967.72
2.43%
+22.97
HSI
29452.57
1.63%
+472.36
N225
29663.50
2.41%
+697.49
NYSE
0.00
-100%
-15206.70
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,283
Emas
805,461 / gram

Sri Mulyani: Pandemi Buat Kesenjangan Makin Lebar

ECONOMICS
Rina Anggraeni/Sindonews
Kamis, 18 Februari 2021 14:00 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, pandemi virus covid-19 yang belum kunjung teratasi telah mengubah segalanya.
Sri Mulyani: Pandemi Buat Kesenjangan Makin Lebar (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, pandemi virus covid-19 yang belum kunjung teratasi telah mengubah segalanya, salah satunya kesenjangan antara si kaya dan miskin semakin melebar.

Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan di Asia ini semakin inklusif, alias dinikmati oleh lebih banyak lapisan masyarakat. Tapi kemudian datanglah pandemi yang mengubah segalanya. Berbagai indikator, telah menunjukkan bahwa pandemi ini telah menimbulkan kesenjangan antar kelompok masyarakat. Serta memperlebar ekonomi di Asia

"Banyak studi menunjukkan di banyak negara maju, serta negara berkembang dan berkembang, pandemi menciptakan kesenjangan yang semakin lebar," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Kamis (18/2/2021).

Maka dalam hal ini, dunia inklusif, menjadi tantangan nyata yang ingin dicapai.  Karena pandemi, meski tidak pandang bulu semua orang, tanpa memandang status, ekonomi, status sosialnya. 

"Bahkan status politik, Perdana Menteri presiden mereka semua bisa terkena pandemi. Tetapi yang membuat perbedaan sebenarnya adalah kekebalan, dan perawatannya," bebernya

Dia menambahkanada beberapa tantangan lain yang juga masih membayangi pertumbuhan Asia, yaitu infrastruktur, teknologi, dan sumber pembiayaan. Padahal ketiganya erat dan penting.

"Indonesia gencar mencari sumber pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur dan perkembangan teknologi ke depan," tandasnya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD