AALI
8050
ABBA
222
ABDA
0
ABMM
805
ACES
1340
ACST
222
ACST-R
0
ADES
1825
ADHI
865
ADMF
8100
ADMG
154
ADRO
1290
AGAR
404
AGII
1190
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
300
AHAP
65
AIMS
374
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3130
AKSI
476
ALDO
735
ALKA
234
ALMI
242
ALTO
374
Market Watch
Last updated : 2021/06/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
462.88
0.99%
+4.52
IHSG
6087.84
1.53%
+91.59
LQ45
868.47
1.11%
+9.54
HSI
28309.76
-0.63%
-179.24
N225
28884.13
3.12%
+873.20
NYSE
16411.98
1.66%
+268.03
Kurs
HKD/IDR 1,852
USD/IDR 14,400
Emas
823,703 / gram

Stem Cell Mesenkimal Tali Pusat Diklaim Turunkan Risiko Kematian Pasien Kritis Covid-19

ECONOMICS
M Sukardi/Sindonews
Jum'at, 11 Juni 2021 18:31 WIB
Pengobatan Covid-19 terus berkembang, dimana salah satunya adalah stem cell Mesenkimal asal tali pusat yang bisa kurangi tingkat kematian pasien Covid kritis.
MNC Media

IDXChannel - Pengobatan Covid-19 terus berkembang dan yang terbaru adalah penggunaan stem cell Mesenkimal asal tali pusat. Terapi ajuvan ini bahkan terbukti mampu menurunkan risiko kematian pada pasien Covid-19 kondisi kritis.

Stem cell atau sel punca Mesenkimal yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien diketahui memberi manfaat luar biasa bagi tubuh. Tercatat dalam studi yang diterbitkan di Stem Cell Translational Medicine Journal (SCTM) pada 8 Juni 2021, ada tiga potensi yang dihasilkan dari terapi ini.

"Pertama adalah antiinflamasi, adanya efek parakrin, dan imunoregulasi, yang mana fungsi ini membuat pasien Covid-19 derajat kritis mendapatkan kesehatan dan penanganan Covid-19 yang lebih baik," terang Peneliti Utama Prof.Dr.dr. Ismail Hadisoebroto, SpOT(K), dalam konferensi pers virtual, Jumat (11/6/2021).

Diterangkan lebih detail, pada tubuh pasien Covid-19 kondisi kritis, terjadi yang namanya badai sitokin. Kondisi ini menyebabkan inflamasi yang hebat pada bagian paru-paru yang lama kelamaan menyebabkan fibrosis.

Ketika fibrosis tidak tertangani dengan baik, ini akan menjadi masalah menahun di kemudian hari. "Nah, ketika terapi stem cell ini diberikan ke pasien, stem cell bekerja dengan menekan badai sitokin sehingga terjadi keseimbangan kembali karena stem cell tersebut bersifat antiinflamasi," terang Prof Ismail.

Tak hanya itu, stem cell yang dimasukkan ke tubuh pasien Covid-19 kondisi kritis ini pun memproduksi beberapa protein 'growth factor' yang akhirnya secara alami memperbaiki jaringan di area paru yang mengalami fibrosis.

Dengan terjadinya perbaikan jaringan itu juga yang kemudian si stem cell itu memperbaiki peradangan di area paru yang rusak akibat badai sitokin. "Stem cell ini pandai sekali. Efek yang terjadi ini betul-betul efek positif bagi pasien Covid-19 kondisi kritis," tambah peneliti stem cell yang terlibat dalam studi ini, dr Isabella Kurnia Liem, M.Biomed, PhD, PA.

Prof Ismail memberi catatan, bahwa pasien Covid-19 kondisi kritis yang sudah mendapat stem cell tidak kemudian parunya menjadi sangat sehat. "Tetap perlu pemantauan dan pengendalian pasca terapi," tambahnya.

"Dan yang tak kalah penting, stem cell tersebut menekan subpopulasi limfosit CX-CR3 CD 4, CX-CR3 CD8, dan CX-CR3 CD56 yang artinya, tubuh pasien menjadi lebih baik lagi dan ini menandakan stem cell menurunkan mortalitas Covid-19," tambahnya.

Bagaimana studi dilakukan?

Studi ini dilakukan di empat rumah sakit di Indonesia antara lain Rumah Sakit Umum Nasional Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Rumah Sakit Persahabatan, dan Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, melibatkan 40 subjek penelitian dengan detail 20 pasien sebagai kelompok perlakuan, 20 lainnya kelompok kontrol.

Pada kelompok perlakuan, mereka mendapatkan terapi standar ditambahkan stem cell mesenkimal dosis 1 juta sel/kg Berat Badan. Sementara itu, kelompok kontrol mendapatkan terapi standar dan plasebo. Studi ini dikerjakan secara double-blind, randomized clinical trial, dan multisenter.

Ada kriteria khusus subjek penelitian dalam studi ini. Pertama adalah pasien Covid-19 terintubasi (klinis dan radiologis), lalu swab PCR dinyatakan positif SAR-CoV2 yang mana sampel diambil dari nasofaring atau bronchoalveolar lavage.

"Yang terpenting, subjek penelitian ini masuk ke dalam derajat kritis dengan PaO2 atau FiO2 lebih rendah dari 300 mmHg dan didukung oleh ventilator, serta mengalami syok seperti syok septik (hipotesi persisten setelah resusitasi cairan) dan membutuhkan vasopressor untuk mempertahankan mean arterial pressure (MAP) lebih dari 65 mmHg dan serum laktat lebih dari 2 mmol/L," papar Prof Islamil.

Terdapat kriteria inklusi pada penelitian stem cell untuk pasien Covid-19 kondisi kritis ini yaitu usia 18 hingga 95 tahun, RT-PCR (+), leukopenia dan Limfopenia dari Darah Perifer dan Diff Count, gambaran Pneumonia pada X-Ray atau Ground glass Opacity pada CT-Scan Thorax, dan keluarga pasien menyetujuinya.

"Ada yang tidak disarankan melakukan terapi ini yaitu bagi keluarga pasien menolak, pasien kondisi hamil, memiliki riwayat keganasan, dan sedang dalam proses uji klinis penelitian lain dalam 3 bulan terakhir," tambah Prof Ismail.

Terkait dengan sumber stem cell, stem cell mesenkimal (SPM) yang dipakai diambil dari tali pusat manusia dan diproduksi oleh Instalasi Pelayanan Terpadu Teknologi Medis Sel Punca, Rumah Sakit Umum Nasional Pusat Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

SPM dikultur dan dipanen dari pasase 5 atau 6 untuk memastikan kualitas sel terbaik. Soal berapa dosis yang diberikan ke pasien, diterangkan dalam studi ini bahwa dosis SPM-TP yang digunakan yaitu 1x10 juta sel per KgBB, diberikan melalui infus bersama dengan 100 mL NaCl 0,9 persen atau cairan infus pada umumnya.

"Dan hasil studi menyatakan bahwa dari 40 subjek penelitian, ada 10 pasien penerima terapi SPM-TP pulih, sedangkan hanya 4 pasien dari kelompok yang tidak menerima SPM-TP. Lalu, jika menganalisa pasien dengan minimal 1 komorbid, maka didapatkan survival ratenya 4,5 berbanding 1. Artinya, terapi stem cell mesenkimal asal tali pusat efektif menurunkan kematian pasien Covid-19 kondisi kritis," terang Prof Ismail.

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD