AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
0.00
-100%
-17099.21
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
814,092 / gram

Survei: Indonesia Jadi Negara Incaran Perusahaan Asing untuk Investasi

ECONOMICS
Kunthi Fahmar Sandy
Rabu, 22 September 2021 15:52 WIB
Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara pilihan utama untuk ekspansi perusahaan Amerika Serikat (AS) dalam mencari peluang pertumbuhan di asean.
Survei: Indonesia Jadi Negara Incaran Perusahaan Asing untuk Investasi (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Indonesia berada di peringkat kedua sebagai negara pilihan utama untuk ekspansi perusahaan Amerika Serikat (AS) dalam mencari peluang pertumbuhan di kawasan ASEAN

Hal ini berdasarkan survei Standard Chartered yang hasilnya dituangkan dalam “Borderless Business: US-ASEAN Corridor”, sebuah laporan strategis yang mengamatipeluang besar untuk pertumbuhan lintas batas di koridor perdagangan antara AS dan negaranegara di ASEAN. 

"Mayoritas perusahaan AS juga mengharapkan pertumbuhan bisnis yang kuat di wilayah ini dalam kurun waktu hingga 12 bulan ke depan dengan 93% responden mengharapkan peningkatan pendapatan dan 86% berharap adanya ekspansi produksi," tulis survei tersebut. 

Survei mengungkapkan bahwa para eksekutif perusahaan AS berfokus pada ekspansi untuk menangkap peluang penjualan dan produksi di Singapura (58%), Indonesia (45%), Thailand (43%), Filipina (38%), Malaysia dan Vietnam (keduanya sebesar 35%). 

Dengan populasi yang diproyeksikan meningkat menjadi 723 juta pada tahun 2030 dan 67% di antaranya diperkirakan berada di kelas menengah, ASEAN akan terus menjadi pasar yang menarik bagi perusahaanperusahaan AS. Penduduk Indonesia yang saat ini jumlahnya lebih dari 270 juta orang tetap menjadi daya tarik terkuat bagi perusahaan AS untuk memperluas basis konsumen dan produksi 

mereka di kawasan ASEAN. 

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan realisasi investasi April-Juni 2021 

(kuartal II 2021) mencapai Rp223,0 triliun dan total data realisasi investasi Januari-Juni 2021 mencapai Rp442,8 triliun. Penanaman modal asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) pada triwulan II tahun 2021 meningkat 19,6% dibandingkan triwulan yang sama di tahun 2020, dan naik 4,5% dari triwulan I tahun 2021. Amerika Serikat masih menjadi salah satu dari 10 negara dengan sumber investasi terbesar bagi Indonesia. 

Selain potensi peningkatan permintaan untuk barang-barang berkualitas lebih tinggi, akses ke 

sumber daya manusia ASEAN yang kuat dengan kecakapan tinggi dalam bahasa Inggris juga 

memberikan daya tarik yang kuat bagi perusahaan-perusahaan AS yang ingin memanfaatkan tenaga kerja di kawasan ini. 

Akses ke pasar konsumen ASEAN yang besar dan berkembang (70%), ketersediaan tenaga kerja yang terampil dan dalm jumlah besar (53%), serta diversifikasi jejak produksi (40%) adalah sejumlah pendorong penting untuk ekspansi ke kawasan ini, 

menurut eksekutif senior perusahaan AS yang disurvei. 

Selain itu, hampir separuh (43%) responden mengindikasikan bahwa mereka berencana untuk meningkatkan investasi di ASEAN selama 3-5 tahun ke depan untuk memanfaatkan peluang yang akan dibawa oleh ratifikasi perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP). 

Terlepas dari optimisme mereka, para eksekutif AS yang disurvei mengakui adanya risiko di ASEAN yang harus dimitigasi. Tiga risiko teratas yang teridentifikasi adalah ketidakpastian geopolitik dan konflik perdagangan (73%), pemulihan ekonomi yang lambat dan penurunan minat belanja konsumen (65%), serta pandemi COVID-19 atau krisis kesehatan lainnya yang sedang berlangsung (63%). 

Lebih lanjut, para responden juga setuju bahwa penyesuaian model bisnis mereka dengan praktik dan kondisi industri di ASEAN (68%), pemahaman akan peraturan regional, metode pembayaran dan infrastruktur (60%), serta hubungan dengan pemasok dan adapatasi rantai pasokan logistik (55%) adalah sejumlah tantangan paling signifikan yang mereka antisipasi dalam 6-12 bulan ke depan. 

Untuk mendorong pertumbuhan yang tangguh dan seimbang di ASEAN serta untuk mengurangi 

risiko-risiko dan tantangan-tantangan tersebut, para eksekutif yang disurvei mengidentifikasi 

beberapa area terpenting yang dapat menjadi fokus perusahaan mereka, seperti membentuk 

perusahaan patungan baru untuk meningkatkan kehadiran pasar (68%), berinvestasi dalam kepemimpinan dan pengembangan bakat (53%), serta melaksanakan program transformasi 

digital (48%). 

Untuk mendukung pertumbuhan mereka, perusahaan-perusahaan tersebut mengatakan bahwa mereka mencari mitra perbankan yang menawarkan layanan pembiayaan korporasi dan penggalangan modal satu atap (50%), lindung nilai valuta asing dan layanan penyelesaian dalam berbagai mata uang (multicurrency settlement) (48%), serta jaringan lintas batas dan pemahaman pasar lokal yang komprehensif (48%). 

Steven Cranwell, CEO, Americas, Standard Chartered, mengatakan berkat pasar yang cukup 

besar, peningkatan adopsi teknologi baru, dan kelas menengah yang berkembang pesat, ASEAN terus dipenuhi dengan peluang bisnis yang menarik bagi perusahaan AS di berbagai sektor. 

"Selagi perusahaan AS terus mengembangkan ambisi usahanya, laju pertumbuhan mereka di 

wilayah yang dinamis ini juga akan bergantung pada kemampuan mereka dalam mendiversifikasi produksi," katanya. 

Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan ketahanan rantai pasokan sehingga tetap selaras dengan harapan konsumen dan prioritas pemerintah – seperti dalam hal praktik Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola, selain juga pada kemitraan dengan pemain industri lokal, lembaga keuangan lembaga dan instansi pemerintah.

(SANDY)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD