Sama halnya dengan para CEO di Indonesia. Hanya 51 persen partisipan memperkirakan kondisi perekonomian membaik dan hanya 32 persen di antaranya optimistis pendapatannya akan naik sepanjang 2026.
“Hal ini menunjukkan sikap yang lebih terukur ketika para pemimpin menyeimbangkan ketidakpastian dengan kebutuhan untuk menjaga transformasi jangka panjang,” tulis PwC.
Adapun hal yang mendorong sikap hati-hati yang cenderung pesimistis di kalangan CEO ini adalah volatilitas makroekonomi. Pada tingkat global, Asia Pasifik, dan Indonesia, faktor volatilitas ini disebutkan para CEO masing-masing sebesar 31 persen, 33 persen, dan 27 persen.
Faktor lain yang memengaruhi pandangan para CEO, terutama secara global dan di kawasan Asia Pasifik, adalah ancaman siber. Selain itu, ada juga faktor kesenjangan kapabilitas (talenta dan keterampilan).
Selain itu, faktor tarif juga masih menjadi sorotan di kalangan CEO. Sebanyak 20 persen CEO di pangsa global masih mengkhawatirkan tarif. Sementara di Asia Pasifik ada 24 persen dan di Indonesia 23 persen.