"Harus selalu yang tiap tahun itu ada masanya. Jadi mencetak itu nggak langsung jebret di awal tahun atau di akhir tahun, tapi ada tahapan-tahapannya. Karena biar gimana kan kebutuhan uang kartal itu masih ada," jelas dia.
Destry menambahkan, keberadaan uang tunai masih sangat vital untuk menopang aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang belum terjangkau akses sinyal dan jaringan pembayaran digital secara optimal.
Dalam penentuan volume pencetakan, BI senantiasa berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah untuk menyelaraskan target jumlah uang beredar (money supply) dalam satu periode berjalan. Proses perancangan dan pembahasan umumnya dimatangkan menjelang pergantian tahun guna menentukan estimasi penerbitan uang kertas maupun uang logam pada masa mendatang.
"BI punya target money supply seperti ini, pemerintah punya target issuance seperti apa, nah itu kemudian kita diskusikan termasuk di situ adalah berapa banyak BI berencana untuk mengeluarkan uang kartal atau mencetak uang kertas dan uang logam," pungkas Destry.
Sebagai informasi, beredar informasi di media sosial yang menyebutkan bahwa uang kertas rupiah tahun emisi 2026 bertanda tangan Menteri Purbaya Yudhi Sadewa dan Perry Warjiyo diburu "kolektor". Hal tersebut dikaitkan dengan masa jabatan Purbaya yang tergolong sebentar yakni hanya satu tahun.
(Rahmat Fiansyah)