AALI
9750
ABBA
286
ABDA
6250
ABMM
1350
ACES
1195
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3300
ADHI
805
ADMF
7575
ADMG
170
ADRO
2190
AGAR
362
AGII
1430
AGRO
1275
AGRO-R
0
AGRS
152
AHAP
66
AIMS
358
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1100
AKRA
725
AKSI
745
ALDO
1315
ALKA
296
ALMI
288
ALTO
242
Market Watch
Last updated : 2022/01/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
502.82
0.04%
+0.23
IHSG
6556.00
-0.19%
-12.17
LQ45
939.03
-0.03%
-0.31
HSI
24283.31
0.16%
+39.70
N225
27101.98
-0.11%
-29.36
NYSE
16340.32
-0.45%
-73.65
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,325
Emas
851,136 / gram

Terapkan Lockdown, Ini Penyebab Kasus Covid-19 Naik di Empat Negara Eropa

ECONOMICS
Fahreza Rizky
Selasa, 23 November 2021 20:10 WIB
Kenaikan kasus penularan Covid-19 di empat negara Eropa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.
Terapkan Lockdown, Ini Penyebab Kasus Covid-19 Naik di Empat Negara Eropa. (Foto: MNC Media)
Terapkan Lockdown, Ini Penyebab Kasus Covid-19 Naik di Empat Negara Eropa. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Kenaikan kasus penularan Covid-19 di empat negara Eropa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia. Hal ini diakui sendiri oleh Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito. 

"Di Minggu ini nyatanya sedikitnya ada empat negara yang alami lonjakan kasus tertingginya, yaitu Austria, Belanda, Belgia dan Jerman," ujar Wiku, Selasa (23/11/2021).

Wiku menuturkqn pada awal 2020 keempat negara tersebut mengimplementasikan wajib lockdown dan wajib masker. Namun begitu kasus menurun di Mei 2020, keempat negara itu melonggarkan pembatasan sehingga aktivitas sosial-ekonomi kembali normal dan masker tak jadi kewajiban.

Imbas dari kebijakan itu terjadi kenaikan kasus Covid-19 hingga mencapai puncaknya pada akhir 2020. Dari keempat negara itu, Belgia menjadi yang paling signifikan dalam kenaikan kasus lantaran tidak menerapkan pembatasan aktivitas dan wajib masker saat awal terjadi lonjakan.

Seiring berjalannya waktu, keempat negara tersebut kembali memberlakukan lockdown dan wajib masker untk menahan laju penularan virus corona.

"Setelah kasus menurun di 2021, empat negara ini melonggarkan pembatasan aktivitas dan kewajiban masker tak lagi seketat awal. Kebijakan ini bertahan selama delapan bulan dan menyebablan lonjakan kasus tajam hingga lebih dari 180 kali lipat," ungkap Wiku.

Saat ini, sambung Wiku, Austria, Belanda, dan Jerman kembali memberlakukan lockdown dan wajib masker kembali. Sementara Belgia tidak melakukan lockdown tapi menerapkan penggunaan masker yang ketat. Keputusan kebijakan ini tidak mudah karena masyarakat menentang lockdown dengan menggelar aksi massa.

"Karena setahun ini terbiasa aktivitas normal dengan masker tak ketat. Namun karena cakupan vaksinasi dosis lengkap di empat negara ini cukup tinggi maka lonjakan kasus tajam saat ini tidak sebabkan pasien Icu dan lonjakan kematian. Berbeda dengan lonjakan pertama pada tahun lalu di mana belum ada vaksin. Lonjakan terjadi di pssien ICU dan kematian juga," paparnya.

Kendati demikian, Wiku memaparkan bahwa vaksin tetap tidak bisa mencegah lonjakan kasus jika tak dibarengi dengan penerapan disiplin protokol kesehatan.

"Dari kenaikan di empat negara itu kita dapat mengambil pelajaran bahwa pembukaan aktivitas masyarakat yang terlalu tergesa-gesa dan tak hati-hati dapat akibatkan lonjakan kasus tajam. Penerapan kebijakan yang kurang tepat dapat memicu resistensi masyarakat terhadap perubahan kebijakan yang tiba-tiba, dan potensi menimbulkan ketidaknyamanan," jelasnya.

"Kepatuhan prokes terutama memakai masker sangat menekan laju penularan. Kebijakan bebas mssker meski sudah vaksin tetap tak bijak untuk diterapkan karena masker tameng utama dalam psndemi covid," pungkasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD