AALI
9725
ABBA
224
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1480
ACST
280
ACST-R
0
ADES
1665
ADHI
1165
ADMF
8075
ADMG
167
ADRO
1185
AGAR
428
AGII
1095
AGRO
910
AGRO-R
0
AGRS
570
AHAP
71
AIMS
494
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3240
AKSI
785
ALDO
870
ALKA
242
ALMI
236
ALTO
318
Market Watch
Last updated : 2021/05/07 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
468.07
-0.98%
-4.61
IHSG
5928.31
-0.7%
-41.93
LQ45
880.72
-0.93%
-8.22
HSI
28610.65
-0.09%
-26.81
N225
29357.82
0.09%
+26.45
NYSE
0.00
-100%
-16348.41
Kurs
HKD/IDR 1,838
USD/IDR 14,290
Emas
835,733 / gram

Tesla Pilih India, Presiden Jokowi & Luhut Belum Komentar

ECONOMICS
Rista Rama Dhany
Minggu, 21 Februari 2021 11:40 WIB
Perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc memutuskan membangun pabrik mobilnya di Karnataka, India bagian selatan.
Tesla Pilih India, Presiden Jokowi & Luhut Belum Komentar (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc memutuskan membangun pabrik mobilnya di Karnataka, India bagian selatan. Hal ini mengejutkan publik Indonesia, pasalnya santer terdengar Tesla ingin berinvestasi di Tanah Air.

Bahkan untuk memastikan Tesla investasi di Indonesia, Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan melakukan pembicaraan melalui telepon bersama CEO Tesla Elon Musk.

Kedua belah pihak bertukar pandangan mengenai industri mobil listrik dan komponen utama baterai listrik. Selain itu, Presiden RI Joko Widodo juga mengajak Tesla untuk melihat Indonesia sebagai launching pad Space X.

CEO Tesla Elon Musk pun menanggapi undangan Presiden RI Joko Widodo dengan rencana mengirimkan timnya ke Indonesia pada Januari 2021 untuk menjajaki semua peluang kerjasama tersebut.

Setelah tim Telsa ke Indonesia, pada 4 Februari lalu, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Septian Hario Seto menyebut pihaknya telah menerima proposal dari Tesla.

Namun, beberapa hari lalu, Menteri Negara Bagian Karnataka Yediyurappa mengumumkan rencana Teslamembangun pabrik mobil di negara bagian selatan India.

Hingga berita ini diturunkan publik menunggu respon pemerintah terkait investasi Tesla di India, belum ada komentar yang dikeluarkan pemerintah baik dari Menko Maves Luhut Panjaitan maupun Presiden Jokowi. 

Respon pemerintah baru keluar dari Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Septian Hario Seto berkomentar terkait hal itu, meski tidak menjabarkan lebih lanjut.

"Maaf, saya ada non-disclosure agreement (perjanjian tidak boleh diungkapkan ke publik). Tidak bisa disclose (ungkapkan) apa-apa," ujarnya.Padahal publik sangat antusias terkait rencana Tesla investasi di Indonesia, bahkan Kementerian Perindustrian sudah menyiapkan lahan buat Telsa di Kawasan Industri Terpadu Barang, Jawa Tengah.

Apalagi Indonesia memiliki produksi dan cadangan nikel salah satu terbesar di dunia. Nikel merupakan salah satu bahan baku dalam pembuatan baterai lithium yang digunakan sebagai energi penggerak mobil listrik.

Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, ekosistem industri mobil listrik di India lebih siap dibandingkan Indonesia. Dari aspek inovasi, teknologi, dan sumber daya manusia (SDM) India jauh mengungguli Indonesia. 

"Hampir pupus harapan Tesla bangun pabrik mobil listrik di Indonesia. Masalahnya kan ada di ekosistem inovasi di India lebih siap, SDM-nya juga berlimpah untuk IT dan otomotif," ujar Bhima.


Ketertinggalan Indonesia di sektor sumber daya mobil listrik juga dibarengi dengan sistem Incremental Capital Output Ratio (ICOR) atau 
rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia (output) yang anggap terlalu boros investasi. 


ICOR sendiri mengukur berapa besar investasi yang diperlukan untuk meningkatkan satu unit output atau Produk Domestik Bruto (PDB). Pada konteks ini Bhima menilai, Tesla khawatir akan butuh investasi besar, sementara nilai output yang sama.


"Kemudian masalah utama di Indonesia soal ICOR yang tinggi jadi kendala. Incremental Capital Output Ratio menghitung borosnya investasi di sebuah negara. Tesla kalau buat pabrik di Indonesia khawatir boros butuh investasi terlalu besar dengan output yang sama," katanya. 

Kendala lain adalah kawasan industri mobil listrik. Indonesia baru mencatatkan pembangunan awal, sementara India sudah menyiapkan jahu-jahu hari. Di samping itu, Pemerintah dianggap tidak terlalu meyakinkan manajemen Tesla bahwa potensi ekosistem mobil listrik juga besar. 


"Tesla itu icon mobil listrik jadi brand Tesla akan menarik produsen part otomotif lainnya untuk investasi di Indonesia. Jadi Tesla sangat berbobot ketika memutuskan investasi baru. Ya mungkin pendekatan pemerintah ke Tesla kurang meyakinkan," tuturnya. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD