AALI
11250
ABBA
74
ABDA
6500
ABMM
750
ACES
1525
ACST
380
ACST-R
0
ADES
1665
ADHI
1385
ADMF
8525
ADMG
177
ADRO
1180
AGAR
412
AGII
1360
AGRO
1355
AGRO-R
0
AGRS
358
AHAP
62
AIMS
138
AIMS-W
0
AISA
310
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
494
AKRA
3370
AKSI
735
ALDO
450
ALKA
232
ALMI
262
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/02/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
503.52
-0.74%
-3.78
IHSG
6241.80
-0.76%
-47.85
LQ45
944.75
-0.82%
-7.79
HSI
28980.21
-3.64%
-1093.96
N225
28966.01
-3.99%
-1202.26
NYSE
0.00
-100%
-15539.42
Kurs
HKD/IDR 1,836
USD/IDR 14,262
Emas
808,747 / gram

Batal Bangun Pabrik di Indonesia, Ada Apa dengan Tesla?

ECONOMICS
Kunthi Fahmar Sandy/Sindo
Sabtu, 20 Februari 2021 08:10 WIB
Indonesia masih punya peluang dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik karena memiliki sumber daya mineral yang berlimpah.
Batal Bangun Pabrik di Indonesia, Ada Apa dengan Tesla? (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Keputusan perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, Tesla Inc yang memilih membangun pabrik di India memunculkan pertanyaan terkait negosiasi Tesla dengan pemerintah Indonesia. 

Padahal sebelumnya, Tesla telah memberi sinyal baik untuk bekerjasama dengan Indonesia. Bahkan, perusahaan itu telah mengirimkan proposal sebagai negosiasi tahap awal kepada pemerintah. 

Dalam proposal tersebut, perusahaan asal AS tersebut berniat menanamkan investasi pada dua sektor. Pertama, membangun industri baterai kendaraan listrik dan kedua akan berinvestasi pada bidang energi storage system (ESS). 

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menuturkan, sebenarnya Tesla memang tidak mempunyai rencana membangun pabrik mobil listrik di Indonesia dan lebih tertarik berinvestasi pada pengembangan sistem penyimpanan energi atau Energy Storage System (ESS) saja. 

"Kita tahu, sejak awal minat investasi Tesla ke Indonesia bukan dalam bentuk pabrik mobil tetapi dalam bentuk ESS. Kalau itu tidak terwujud juga berarti pemerintah tidak cukup tanggap untuk mengantisipasi investasi Tesla di Indonesia," kata Piter. 

Dia juga meminta agar Indonesia tidak perlu berharap apalagi cemas terkait hal tersebut. Sebab, Indonesia masih punya peluang dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik karena memiliki sumber daya mineral yang berlimpah. 

Jadi, apa yang membuat perusahaan asal AS itu ragu untuk berinvestasi di Indonesia? 

Menurut Piter, Indonesia sebetulnya mempunyai potensi besar untuk menjadi produsen kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Potensi tersebut telah dilirik oleh banyak investor asing maupun dalam negeri. 

Maka dari itu, langkah selanjutnya adalah merancang bentuk kerja sama agar pemanfaatan sumber daya yang ada bisa lebih optimal. Di samping itu, konsistensi kebijakan pemerintah juga diperlukan agar pengembangan kendaraan listrik di Tanah Air berhasil. 

"Sering kali yang menjadi kelemahan kita ada konsistensi kebijakan. Hambatan utama selama ini menurut saya adalah tidak adanya konsistensi kebijakan," cetusnya. 

Sehingga, menurut dia, ketidakkonsistenan kebijakan akan berpengaruh terhadap minat investasi asing. Hal ini membuat investor menjadi ragu untuk berinvestasi di Indonesia karena regulasi yang sering berubah. 

"Pada awal tahun 2011, kita sangat bersemangat mengembangkan mobil listrik. Tetapi kemudian itu menjadi redup. Pola-pola seperti ini yang harus kita hindari. Jangan sampai kita semangat, kemudian redup lagi," pungkas dia. (Sandy)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD