AALI
10225
ABBA
474
ABDA
0
ABMM
1650
ACES
1405
ACST
262
ACST-R
0
ADES
2540
ADHI
1095
ADMF
7875
ADMG
240
ADRO
1765
AGAR
344
AGII
1530
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
214
AHAP
64
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4650
AKSI
570
ALDO
755
ALKA
246
ALMI
240
ALTO
294
Market Watch
Last updated : 2021/10/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.30
0.5%
+2.54
IHSG
6656.94
0.47%
+31.24
LQ45
965.04
0.39%
+3.72
HSI
26038.27
-0.36%
-93.76
N225
29106.01
1.77%
+505.60
NYSE
17169.07
0.27%
+46.83
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,150
Emas
818,997 / gram

Utang Lewat Pinjol Ilegal, OJK: Malapetaka!

ECONOMICS
Michelle Natalia
Senin, 21 Juni 2021 15:50 WIB
OJK menghimbau agar masyarakat lebih hati-hati melakukan peminjaman uang atau utang ke perusahaan pinjamann online (pinjol) yang resmi.
Utang Lewat Pinjol Ilegal, OJK: Malapetaka! (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghimbau agar masyarakat lebih hati-hati melakukan peminjaman uang atau utang ke perusahaan financial technology atau pinjamann online (pinjol) yang resmi terdaftar. Pasalnya, utang lewat pinjol ilegal hanya akan memberikan malapetaka.

"Faktanya, saat ini ada 125 pinjol yang terdaftar di OJK, dan nasabah yang ada saat ini mencapai 60 juta rekening, dengan total dana kumulatif yang disalurkan sebanyak Rp190 triliun dengan outstanding saat ini Rp20 triliun, dari data tersebut, memang pinjol ini membantu masyarakat dalam pendanaan," ujar Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam L. Tobing dalam Webinar 'Mencari Solusi Penanganan Pinjaman Online Ilegal' di Jakarta, Senin(21/6/2921).

Tapi, kata Tongam, pinjol ini menyengsarakan apabila masyarakat terjebak di pinjol ilegal. Ini yang perlu dicari solusinya dan melakukan pemberantasan terhadap pinjol ilegal. Yang legal diawasi langsung oleh OJK, sementara kode etiknya pun ditegakkan oleh AFPI. "Oleh karena itu, pinjol ilegal menjadi tanggung jawab kita bersama. Kami di Satgas Investasi pun bahu membahu memberantas pinjol ilegal ini," tandasnya. 

Ciri-ciri pinjol ilegal yang pertama, kata Tongam, adalah tidak terdaftar di OJK. Kedua, syarat peminjaman uang yang sangat mudah, hanya bermodalkan foto KTP dan selfie memegang KTP. Kemudian, aplikasi pinjol ilegal ini akan selalu meminta akses atas seluruh data dan kontak peminjam untuk diakses. 

"Nah ini malapetakanya, jadi kekuatan pinjol ilegal adalah di data dan kontak di HP. Apa yang diperoleh masyarakat dari pinjol ilegal sangat tidak manusiawi. Feenya sangat tinggi, pinjam Rp1 juta yang ditransfer Rp600 ribu, bunganya diperjanjikan di awal 0,5 persen per hari jadi 2 persen per hari, jangka waktunya diperjanjikan 90 hari menjadi 7 hari," jelas Tongam.

Kemudian, ketika peminjam telat membayar, akan dihujani teror, intimidasi, dan pelecehan. Maka dari itu, pinjol ilegal harus dilihat dari dua sisi, baik sisi pelaku dan peminjam. Dari sisi pelaku, dengan kemajuan teknologi saat ini sangat mudah membuat platform untuk menawarkan pinjaman ilegal. 

"Satgas sudah memblokir 3.193 pinjol ilegal dan kami umumkan ke masyarakat supaya tidak mengakses, dan kami memblokir situs web dan aplikasinya, dan kami sampaikan ke Kabareskrim apabila ada tindak pidana, segera ada penegakan hukum. Kami juga patroli cyber bersama Kemkominfo, setiap hari kami blokir situsnya sebelum bisa diakses, tapi apakah mereka berhenti? Tidak, besok paginya mereka bikin baru," tegas Tongam. 

Maka dari itu, diperlukan solusi bersama untuk menangani kasus pinjol ilegal yang terus menerus tumbuh ini. Dari sisi peminjam, ada beberapa kelompok masyarakat, yang tidak mengetahui bahwa itu pinjol ilegal sehingga mereka mengakses, dan kelompok kedua, sudah paham itu pinjol ilegal, tetapi karena desakan keadaan dan kebutuhan ekonomi sehingga mereka terpaksa. 

"Jadi perlu ada hal-hal terkait perekonomian yang perlu kita lakukan, edukasi dan sosialisasi dari Satgas selalu dilakukan ke masyarakat meski perlu jangkauan lebih luas lagi. Tapi, kita juga butuh peran serta masyarakat, jadi masyarakat kita didik, karena edukasi inilah hal utama yang kami lakukan," pungkas Tongam. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD