AALI
0
ABBA
0
ABDA
0
ABMM
0
ACES
0
ACST
0
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
0
ADMF
0
ADMG
0
ADRO
0
AGAR
0
AGII
0
AGRO
0
AGRO-R
0
AGRS
0
AHAP
0
AIMS
0
AIMS-W
0
AISA
0
AISA-R
0
AKKU
0
AKPI
0
AKRA
0
AKSI
0
ALDO
0
ALKA
0
ALMI
0
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
507.30
-0.48%
-2.43
IHSG
6645.05
-0.72%
-48.35
LQ45
948.02
-0.52%
-4.93
HSI
24218.03
-0.68%
-165.29
N225
28333.52
0.74%
+209.24
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,835
USD/IDR 14,305
Emas
837,181 / gram

Wah, RI Berpeluang Ekspor Energi Panas Bumi ke Singapura

ECONOMICS
Dinar Fitra Maghiszha
Jum'at, 14 Januari 2022 15:32 WIB
Indonesia berpeluang untuk ekspor energi panas bumi (geothermal) ke Singapura. Apalagi saat ini, Indonesia memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia.
Wah, RI Berpeluang Ekspor Energi Panas Bumi ke Singapura (FOTO: MNC Media)
Wah, RI Berpeluang Ekspor Energi Panas Bumi ke Singapura (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Indonesia berpeluang untuk ekspor energi panas bumi (geothermal) ke Singapura. Apalagi saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki cadangan panas bumi terbesar di dunia.

Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Manysuri mengatakan bahwa Indonesia memiliki peluang untuk melakukan ekspor energi panas bumi atau geothermal ke Singapura.

Pahala memaparkan Singapura melalui Energy Market Authority (EMA) telah mengumumkan akan melakukan diversifikasi sumber listrik lewat pembangkit energi terbarukan hingga 4 gigawatt (GW) non-intermiten pada tahun 2035.

“Ini potensi yang bagus untuk ekspor, dengan faktor kedekatan Indonesia dengan Singapura. Peluang ini harus ditangkap cepat dan dimanfaatkan," kata Pahala dalam sebuah wawancara, dikutip Jumat (14/1/2022).

Pahala menyebut gerak cepat negara tetangga perlu menjadi perhatian BUMN agar tak ketinggalan dalam penyediaan energi listrik EBT.

“Untuk itu, dibutuhkan sinergi yang kuat antara PNRE, PGE dan PLN untuk menyediaan kebutuhan energi hijau di dalam negeri, serta mampu menangkap peluang ekspor dengan sumber daya yang melimpah,” tuturnya.

Sebagai catatan, pemerintah sedang berupaya untuk memenuhi target pencapaian bauran energi nasional dari Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada tahun 2025.

Pahala menjelaskan bahwa saat ini pemerintah sedang fokus terhadap pengembangan panas bumi sebagai porsi terbesar dalam EBT untuk menghadirkan energi bersih dalam rangka terciptanya kemandirian energi nasional.

“Kita akan kembangkan geothermal, karena yang menguntungkan di geothermal. Target penurunan emisi dari perusahaan BUMN 85 juta ton CO2,’’tuturnya.

Geothermal atau panas bumi, lanjut Pahala, merupakan energi andalan Indonesia karena bisa dijadikan baseload. Biaya penyediaan energi dari panas bumi dinilai lebih murah dibandingkan EBT yang lain, yakni hanya USD7,6-8 sen per kWh.

‘'Bandingkan dengan baterai dari energi surya yang USD12 sen per kWh, jelas geothermal lebih murah. Sehingga, pemerintah menilai, geothermal punya potensi unik untuk dikembangkan," imbuhnya.

Dia menambahkan, penggunaan geothermal dapat berfungsi untuk menekan impor BBM nasional, mengingat saat ini konsumsi bahan bakar minyak mencapai 1,2 juta barel per hari, dengan 40 persennya berasal dari impor.

Pahala mengatakan, pihaknya mendorong BUMN untuk mengoptimalkan pengembangan geothermal di wilayah kerjanya sendiri. Apalagi, saat ini baru 9 persen wilayah kerja geothermal yang berproduksi dengan kapasitas hanya 1.900 MW.

"Kita masih punya potensi 19 GW, kita dorong bagaimana agar Pertamina Geothermal Energy mengembangkan area geothermal,’" tukasnya.

Saat ini, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengelola 15 wilayah kerja dengan kapasitas 1.877 MW, dengan rincian 672 MW dioperasikan sendiri dan 1.205 MW merupakan kontrak operasi bersama. Untuk meningkatkan pemanfaatan panas bumi, saat ini PGE sedang mengembangkan teknologi baru  dengan menggunakan binary cycle.

Potensi energi baru dan terbarukan di Indonesia terbilang cukup besar. Sejumlah renewable energy antara lain bersumber dari energi hidro, geothermal, bayu, solar panel, biofuel, arus bawah laut, dan lain sebagainya.
 
"Dengan aset besar itu, Indonesia saat ini juga tengah mengejar ketersediaan energi baru dan terbarukan. Salah satunya lewat panas bumi yang sangat berlimpah di Tanah Air," tutup Pahala. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD