Selain kecepatan, WHOME juga dirancang memiliki ketahanan terhadap gempa. Pengembangan fitur tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan BRIN sehingga melibatkan riset dan tenaga ahli eksternal.
Mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI), tingkat keamanan struktur WHOME telah teruji sebagai rumah tahan gempa yang memenuhi standar Kategori Desain Seismik (KDS) D dari Kementerian Pekerjaan Umum, Bandung.
Fitur lain yang ditawarkan adalah penggunaan material yang lebih ramah lingkungan. WIKA Beton memanfaatkan sejumlah material sisa industri, seperti fly ash dari limbah batu bara dan slag dari limbah besi, yang kemudian diolah menjadi bagian dari material bangunan.
Penggunaan material tersebut ditujukan untuk mengurangi emisi karbon sekaligus memanfaatkan limbah industri.
"Jadi kami memanfaatkan barang-barang limbah, sehingga itu fitur green-nya," ujarnya.
Keunggulan tersebut, lanjut Verly, tidak hanya diuji melalui rumah contoh yang dibangun dalam gelaran Danantara Housing Expo. Teknologi bangunan WIKA Beton juga telah digunakan dalam pembangunan rumah di Aceh Tamiang.