Proyek tersebut memiliki tantangan berupa keterbatasan akses kendaraan, tempat tinggal pekerja hingga kebutuhan air, sehingga metode pembangunan yang cepat menjadi penting.
Untuk mendukung proyek dengan kondisi khusus seperti Aceh Tamiang, WIKA Beton dapat menggunakan konsep mobile plant, yakni fasilitas produksi yang disiapkan lebih dekat dengan lokasi proyek. Verly mengatakan, untuk pembangunan di Tamiang, kapasitas produksi bahkan dapat mencapai sekitar lima ribu rumah dalam satu bulan.
"Dengan segala keterbatasan, kami bisa secara cepat, kami bangun rumah di sana," katanya.
Sementara itu, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan tantangan pemenuhan hunian tidak hanya soal menyediakan pasokan rumah, tetapi juga menghadirkan akses yang lebih mudah dan skema pembiayaan yang ramah bagi masyarakat, khususnya pembeli rumah pertama.
Guna menyederhanakan proses kepemilikan rumah, Danantara menyinergikan ekosistem BUMN properti, Himbara, dan pengembang swasta dengan menghadirkan kemudahan seperti DP mulai 1 persen hingga tenor panjang.