"Pelanggan kami memiliki kepuasan tersendiri atas produk kami. Tidak mungkin kami akan mengubah cara kami dalam membuat kendaraan," kata Gupta seperti dikutip dari Financial Times. "Cara kami mendesain, mengembangkan dan memproduksi adalah cara pabrikan otomotif, seperti Nissan."
Meski begitu, Gupta menyebut Nissan tetap terbuka untuk bekerja sama dengan mengoneksikan kendaraan dengan mengemudi otomatis. Dia merujuk pada kolaborasi antara Google dan start up lainnya.
"Kami akan memeriksa apakah telah memiliki kompetensi terbaik untuk mengetahui apa yang diinginkan pelanggan. Untuk itu, kami membuka kemitraan, hal itu berarti layanan mereka harus menyesuaikan dengan produk kami, bukan sebaliknya."
Meski demikian, tindakan Apple yang berencana terjun ke industri otomotif menimbulkan banyak kekhawatiran. Sejumlah perusahaan otomotif takut dengan kemunculan "Foxconn di industri otomotif", yang mereferensikan grup manufaktur asal Taiwan pembuat perangkat iPhone. Namun, Apple menolak untuk berkomentar.
Di sisi lain, para pengamat setuju apabila Apple ingin menggandeng Nissan. Dengan kekuatan afiliasinya dengan dengan Renault Prancis, dan Mitsubishi Motors, maka akan sangat cocok dengan kebutuhan Apple. Apalagi, perusahaan ini disebut sebagai pionir kendaraan listrik yang dilucurkan pada 2010 lalu.