Meski perjanalannya tidak selalu mulus, ujar Liz, namun lambat laun Dapur Tara kini semakin dikenal turis. Terbukti, dalam setahun Liz dan kawan-kawan bisa kedatangan hingga 2.000 tamu yang menginap. Perpaduan antara sajian kuliner khas dan fasilitas menginap yang jauh dari hiruk pikuk kota, menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang sengaja ingin menjalani detoks digital.
“Ya, di sini tidak ada sinyal telepon seluler. Bahkan untuk akses masuk pun turis harus jalan kaki dari jalan utama karena memang aksesnya terbatas. Tapi ini ternyata yang mereka cari. Saya sering sampaikan, jika mereka punya pekerjaan yang harus dengan terhubung ke internet, mereka harus menyelesaikannya sebelum menginap di sini,” kata Liz yang berkeinginan membuka sekolah berbasis alam untuk mengenalkan budaya Flores ke generasi berikutnya.
Liz pada kesempatan tersebut, juga berbagi cerita kepada sembilan pengelola desa Bakti BCA yang sengaja datang ke Dapur Tara untuk bertukar pengalaman dalam mengelola wisata di daerah masing-masing. Rombongan ini sengaja dibawa oleh pihak BCA untuk memberikan gambaran melalui workshop pengelolaan desa wisata berbasis kekayaan daerah.
“Kuliner lokal adalah salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa. Melalui workshop ini, kami ingin mendorong para pengelola Desa Bakti BCA untuk semakin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik, sehingga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat desa,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn.
Kegiatan ini, ujar Hera, merupakan upaya untuk memperkuat komitmen pemberdayaan masyarakat dalam mendukung desa binaan dan memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing desa, salah satunya di bidang gastronomi. Workshop ini dirancang sebagai langkah strategis untuk memberdayakan pengelola desa yang memiliki keunggulan di bidang gastronomi, termasuk pendalaman kuliner lokal tersebut dengan sejarah, seni, dan budaya.