sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Dapur Tara, Sisi Lain Labuan Bajo dan Citarasa Lawas Khas Flores 

Ecotainment editor Yanto Kusdiantono
12/07/2026 07:30 WIB
Dapur Tara adalah pintu masuk bagi mereka yang ingin menikmati kuliner khas dan sekaligus budaya Flores, NTT.
Dapur Tara adalah pintu masuk bagi mereka yang ingin menikmati kuliner khas dan sekaligus budaya Flores, NTT. (Foto: Ist)
Dapur Tara adalah pintu masuk bagi mereka yang ingin menikmati kuliner khas dan sekaligus budaya Flores, NTT. (Foto: Ist)

IDXChannel – Menjelajahi pantai-pantai eksotis, traking ke Pulau Padar atau mengunjungi Taman Nasional Pulau Komodo bisa jadi merupakan daftar itinerary utama wisatawan kala berkunjung ke Labuan Bajo, di Kabupaten Mangarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Wajar, karena Labuan Bajo dan wilayah sekitarnya selama ini memang dikenal dengan wisata alamnya yang luar biasa indah. Apalagi, kini infrastruktur pendukung di daerah ini sudah semakin baik. Berbagai penyedia jasa pariwisata juga mudah ditemukan sehingga akses wisatawan kian mudah. 

Di antara sekian daftar tujuan wisata di Labuan Bajo, ada satu lokasi yang menawarkan pengalaman berbeda. Bukan di pantai, melainkan di area pegunungan. Dapur Tara namanya. Ini bukan dapur biasa. Terutama bagi mereka yang kesehariannya bergelut kesibukan di kota. Dapur ini, lebih tepatnya adalah pintu masuk bagi mereka yang ingin menikmati kuliner khas dan sekaligus budaya Flores, NTT.

“Kami menyediakan kuliner khas lokal yang kami masak sendiri dari bahan-bahan yang ada di kebun di sekitar sini. Semua dikerjakan sesuai dengan kebiasaan kami di Flores seperti yang dilakukan orang-orang terdahulu,” ujar Elisabet Yani Tararubi, pengelola Dapur Tara, saat menerima kunjungan dari rombongan pengelola desa wisata Bakti BCA, Rabu (9/7/2026) sore.   

Kak Liz, panggilan akrab Elisabet, adalah inisiator Dapur Tara yang mulai beroperasi pada awal tahun 2019 sebelum pandemi. Saat itu, dia yang sebelumnya sempat bekerja di Bali, merasa terpanggil mengembangkan wisata di daerah asalnya untuk merawat tradisi yang menurutnya sudah mulai ditinggalkan kaum muda. 

Di Dapur Tara inilah, yang lokasinya berada di Desa Melo, Liang Ndara, Manggarai Barat, dia bersama sekitar 15 anggota komunitas, meracik aneka menu makanan warisan leluhurnya untuk disajikan kepada para tamu. Ayam asap, nasi hang kolo yang dimasak menggunakan bambu, nasi merah, sup ayam gosa gora, hingga sambal nanas yang kesemuanya dibuat dengan resep tradisional dan rempah-rempah yang ditanam di sekitar dapur. 

Tak hanya menyediakan aneka makanan, Dapur Tara juga memiliki paket wisata gastronomy di mana wisatawan bisa ikut terlibat dalam aktivitas meracik menu. Berbeda dangan kebiasaan di era serba praktis dan instan, di ‘resto kebun’ yang berada di lintasan jalan Trans Flores ini, wisatawan harus sabar mengikuti proses memasak karena di beberapa menu ada yang harus dimasak hingga berjam-jam dengan api dari kayu bakar. 

“Setelah semua matang, kita makan di sini (ruang makan) duduk bersama. Tidak ada kursi, sesuai dengan tradisi kami,” ujar Liz. 
Selain menikmati kuliner, di Dapur Tara wisatawan juga bisa menginap dan me-lokal bersama masyarakat sekitar. Jika tamunya stay dalam waktu lama, tak jarang Liz mengajak turis-turisnya yang rata-rata dari Australia dan Eropa untuk mengikuti acara-acara adat lengkap dengan busana daerah seperti sarung. 

Menghidupkan Ekonomi Desa 

Keberadaan Dapur Tara merupakan contoh bagaimana potensi lokal kini bisa menghidupkan ekonomi masyarakat desa. Tidak hanya desa tempat Dapur Tara berada, tetapi juga desa lain di sekitarnya. 

“Kalau kebetulan tamu banyak, kita kan perlu bahan makanan lebih banyak. Maka otomatis kami akan cari ke desa lain pasokan makanan mentahnya untuk diolah dan disajikan di sini,” ujar Liz. 

Meski perjanalannya tidak selalu mulus, ujar Liz, namun lambat laun Dapur Tara kini semakin dikenal turis. Terbukti, dalam setahun Liz dan kawan-kawan bisa kedatangan hingga 2.000 tamu yang menginap. Perpaduan antara sajian kuliner khas dan fasilitas menginap yang jauh dari hiruk pikuk kota, menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang sengaja ingin menjalani detoks digital. 

“Ya, di sini tidak ada sinyal telepon seluler. Bahkan untuk akses masuk pun turis harus jalan kaki dari jalan utama karena memang aksesnya terbatas. Tapi ini ternyata yang mereka cari. Saya sering sampaikan, jika mereka punya pekerjaan yang harus dengan terhubung ke internet, mereka harus menyelesaikannya sebelum menginap di sini,” kata Liz yang berkeinginan membuka sekolah berbasis alam untuk mengenalkan budaya Flores ke generasi berikutnya. 

Liz pada kesempatan tersebut, juga berbagi cerita kepada sembilan pengelola desa Bakti BCA yang sengaja datang ke Dapur Tara untuk bertukar pengalaman dalam mengelola wisata di daerah masing-masing. Rombongan ini sengaja dibawa oleh pihak BCA untuk memberikan gambaran melalui workshop pengelolaan desa wisata berbasis kekayaan daerah. 

“Kuliner lokal adalah salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa. Melalui workshop ini, kami ingin mendorong para pengelola Desa Bakti BCA untuk semakin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik, sehingga dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat desa,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn. 

Kegiatan ini, ujar Hera, merupakan upaya untuk memperkuat komitmen pemberdayaan masyarakat dalam mendukung desa binaan dan memaksimalkan potensi yang dimiliki masing-masing desa, salah satunya di bidang gastronomi. Workshop ini dirancang sebagai langkah strategis untuk memberdayakan pengelola desa yang memiliki keunggulan di bidang gastronomi, termasuk pendalaman kuliner lokal tersebut dengan sejarah, seni, dan budaya. 

Selain di Labuan Bajo, Bakti BCA selama ini juga mendampingi desa wisata binaan di berbagai wilayah Indonesia untuk mengoptimalkan potensi ekonomi lokal masing-masing desa, termasuk di bidang kuliner, kerajinan, dan pariwisata. 

Dalam program ini, BCA memberikan pembinaan holistik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat desa, melalui berbagai program seperti pengelolaan keuangan, rumah pangan hidup (RPH), revitalisasi kebun kopi, dukungan sertifikasi, serta berbagai ragam program pengembangan lainnya. 

“Kami percaya bahwa penguatan kapasitas masyarakat desa harus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan agar dampaknya benar-benar terasa. Karena itu, setiap program dirancang untuk saling terhubung dan mendukung pengembangan potensi lokal secara menyeluruh,” tambah Hera. 

Melalui program Desa Bakti BCA, emiten berkode BBCA ini menjalankan tiga pilar utama inisiatif meliputi Usaha Berbasis Kemasyarakatan untuk  memastikan usaha desa dimiliki dan dikelola oleh masyarakat lokal di masing-masing daerah. Kemudian Peningkatan Kapasita melalui menyelenggarakan pelatihan berkala untuk penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan tata kelola usaha desa. Dan memfasilitasi akses pasar yakni dengan memberikan dukungan promosi dan perluasan pasar melalui berbagai saluran ekosistem BCA serta misi penjualan.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement