sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Risiko Penipuan Online pada World Cup 2026 Diprediksi Meningkat Imbas Kenaikan Harga Tiket

Ecotainment editor Kurnia Nadya
30/04/2026 13:27 WIB
Feedzai memperingatkan risiko penipuan pada ticketing dan travel dalam gelaran World Cup tahun ini.
Risiko Penipuan Online pada World Cup 2026 Diprediksi Meningkat Imbas Kenaikan Harga Tiket. (Foto: FIFA)
Risiko Penipuan Online pada World Cup 2026 Diprediksi Meningkat Imbas Kenaikan Harga Tiket. (Foto: FIFA)

IDXChannel—Mendekati gelaran World Cup 2026, potensi penipuan online diprediksi meningkat. Jaringan penipu online umumnya mulai aktif pada event-event besar seperti Piala Dunia, Super Bowl, dan sebagainya. 

Feedzai, perusahaan machine learning pendeteksi transaksi pembayaran ilegal dan penipuan online, mengatakan bahwa antusiasme penggemar untuk mengikuti acara berskala besar adalah sasaran empuk bagi jaringan scammer

“Acara besar seperti World Cup adalah impian para penipu. Ongkos untuk ikut acara seperti ini biasanya mahal. Orang-orang pasti akan berupaya mencari tawaran atau deal yang menarik. Inilah yang diincar para penipu,” tutur CEO Feedzai Nuno Sebastião. 

Melansir Reuters (30/4/2026), aktivitas jaringan scammer yang meningkat saat event besar memang sering terjadi. Namun, kenaikan harga tiket World Cup tahun ini berpotensi meningkatkan risiko penipuan. 

Apalagi, fans sepak bola berasal dari kelompok ekonomi yang bervariasi. Peringatan dari Feedzai selaras dengan proyeksi yang dibuat oleh The Knoble, jaringan swadaya yang bergerak dalam pemberantasan kejahatan finansial. 

The Knoble memprediksikan event World Cup berpotensi memicu 28.500 transaksi keuangan yang mencurigakan dalam skala global. Adapun area yang rawan terjadi penipuan adalah ticketing, travel (perjalanan), dan penipuan online. 

Sebastiao juga memperingatkan bahwa jaringan penipu global yang aktif pada event-event besar tahunan biasanya dikelola oleh jaringan kejahatan besar, bahkan terkadang dilindungi oleh negara-negara tertentu. 

“Kita bicara jaringan global yang disponsori oleh Korea Utara, beberapa negara di Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Wilayah-wilayah di mana sistem hukum kita (AS) tidak dapat menjangkau,” lanjutnya. 

Dia juga mengatakan tindak kejahatan selama event besar tidak terbatas hanya pada penipuan online dan penipuan tiket, tetapi juga mencakup kejahatan di lokasi seperti perdagangan orang (human trafficking). 

“Setiap kali ada perkumpulan besar, ada orang-orang yang diperdagangkan untuk tujuan eksploitasi seksual. Mereka korban, dipaksa melakukan itu karena mereka imigran legal,” kata Sebastiao. 

Belum lama ini, pada gelaran Super Bowl terakhir yang digelar di California, sebanyak 23 pelaku perdagangan orang ditangkap dan 73 korban perdagangan orang berhasil diselamatkan, 10 di antaranya berusia minor. 


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement