IDXChannel - Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) menegaskan komitmennya untuk mendorong perfilman nasional agar tidak hanya kuat di pasar domestik. Harapannya, film karya dalam negeri mampu bersaing di tingkat regional dan global sebagai bagian dari upaya meningkatkan potensi ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Ketua LSF RI Naswardi saat konferensi pers laporan kinerja LSF RI 2025 pada Rabu (28/1/2026). Harapan ini menanggapi soal peran LSF dalam mendukung industri film.
Apalagi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi X DPR RI dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sempat menyoroti pentingnya kontribusi ekonomi dari sektor perfilman. Menanggapi hal itu, LSF menilai pasar film Indonesia saat ini sangat potensial dan menjadi incaran industri film global.
Di tengah stagnasi pertumbuhan film global yang hanya berada di angka 2 persen, film nasional justru mencatat pertumbuhan signifikan di angka 5-6 persen.
Untuk itu, Naswardi optimistis pasar Indonesia menjadi pasar yang diperebutkan oleh berbagai pasar film dari berbagai negara di dunia.
“Pada saat film global ini stagnan di angka 2 persen, film nasional kita ini tumbuh di angka 5–6 persen. Maka pasar Indonesia adalah pasar potensial yang diperebutkan oleh berbagai pasar film dari berbagai negara di dunia,” ujar Naswardi.
Saat ini, tercatat ada 19 negara yang filmnya masuk dan tayang di Indonesia. Negara-negara tersebut antara lain Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, hingga China yang kini masuk dalam lima besar negara dengan film impor terbanyak.
LSF menilai kondisi ini menunjukkan besarnya daya tarik pasar Indonesia di mata internasional. Namun, Naswardi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan agar film nasional tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sekaligus memperluas peluang ekonomi ke luar negeri.
"Pasar yang ada ini kita rawat untuk kepentingan film nasional, tetapi juga kita tidak hanya fokus. LSF ingin mendorong para rumah produksi di Indonesia untuk juga tidak hanya berfokus pada pasar dalam negeri tetapi juga pasar di kawasan ASEAN maupun Asia maupun dunia,” katanya.
LSF mencatat, hingga kini film Indonesia masih relatif minim penetrasi di pasar ASEAN dan Asia, meskipun film dari Thailand dan Malaysia cukup banyak masuk ke Indonesia.
Untuk itu, LSF berencana memperkuat kerja sama dengan lembaga sensor film di berbagai negara, seperti Lembaga Penapis Film Malaysia, Office Screening Thailand, hingga Korea Media Rating Board di Korea Selatan.
"Kami ingin ke depan ada kesepahaman bahwa kita sama-sama membuka ruang bagi film dari negara masing-masing untuk diberikan izin tayang, untuk diberikan surat tanda lulus sensor pada masing-masing kebijakan di negara yang bersangkutan,” kata Naswardi.
Dia berharap upaya ini dapat membuka akses distribusi film Indonesia ke pasar internasional. Selain itu juga memperkuat kontribusi industri perfilman terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
(Dhera Arizona)