Selain faktor keturunan, tekanan psikologis yang sudah menumpuk dan dirasakan sejak masa sekolah hingga berlanjut ke dunia kerja turut memicu lonjakan hormon stres (kortisol) yang berdampak pada tekanan darah. Saat sekolah anak muda dituntut konsentrasi dan fokus belajar selama di sekolah sejak pagi hingga siang bahkan sore hari.
Hal itu berlanjut saat masuk ke dunia kerja dimana hal itu akhirnya menimbulkan tekanan psikologis kerja yang naik dan memicu stres hingga beresiko meningkatkan hipertensi.
"Kedua karena gaya hidup. Pada anak muda ini kan tekanannya berat. Mereka terbiasa dengan konsentrasi karena dulu sekolah kita dari jam berapa? Jam 07.00–01.00. Jadi sudah capek sekolah, les, beban sekolah, dimarahin. Terus sampai kerja, dimarahin lagi, lembur lagi, belum standar sosial, itu akhirnya membuat gaya hidupnya menjadi tekanan psikologis kerja naik. Tekanan psikologis kerja naik, stres, itu akan meningkatkan risiko dari hipertensi, karena kortisolnya naik," jelas dr. Tirta.
Kondisi tersebut kerap diperparah oleh kebiasaan harian yang buruk, mulai dari pola tidur yang berantakan, minim aktivitas fisik, konsumsi karbohidrat berlebih, hingga kebiasaan merokok yang cukup tinggi.
"Pola tidur berantakan, makan makanan karbo terlalu banyak, enggak pernah olahraga, terus habis itu dia ngerokok, ditambah ngerokok dan kopi. Kopi tok aman. Nah, kopi dikombinasi rokok, naik tuh simpatis. Dua kombinasi ini membuat tekanan anak-anak muda ini menjadi tekanan darahnya di atas rata-rata," tegas dia.