Joko Anwar menegaskan film ini lahir dari realitas yang dekat.
“Ini tentang kekuasaan dan sistem yang korup. Ketidakadilan itu bahasa universal,” ujarnya dalam keterangan resminya, Minggu (6/4/2026).
Pernyataan itu tercermin dari respons pasar global, yang melihat kisah ini bukan sekadar cerita lokal, melainkan potret masalah yang relevan di banyak negara.
Produser Tia Hasibuan menilai capaian ini sebagai bukti kualitas produksi. “Banyak negara tertarik menayangkannya,” katanya.
Tak heran, jaringan distribusi film ini mencakup kawasan Asia Tenggara, Amerika Utara, Eropa, hingga Amerika Latin dan Afrika—menjadikannya salah satu film Indonesia dengan jangkauan internasional paling luas dalam beberapa tahun terakhir.
Film ini juga diperkuat oleh deretan pemain lintas generasi seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, hingga Tora Sudiro, serta memperkenalkan Magistus Miftah.