AALI
9975
ABBA
400
ABDA
0
ABMM
1450
ACES
1305
ACST
230
ACST-R
0
ADES
2950
ADHI
1025
ADMF
7700
ADMG
210
ADRO
1700
AGAR
340
AGII
1600
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
177
AHAP
65
AIMS
486
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
860
AKRA
3970
AKSI
416
ALDO
1020
ALKA
244
ALMI
246
ALTO
280
Market Watch
Last updated : 2021/11/30 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
497.28
-2.19%
-11.12
IHSG
6533.93
-1.13%
-74.36
LQ45
930.98
-2.07%
-19.70
HSI
-74.94
-100.31%
-23927.18
N225
346.43
-98.78%
-27937.49
NYSE
59.11
-99.64%
-16565.76
Kurs
HKD/IDR 1,834
USD/IDR 14,318
Emas
825,609 / gram

Cerita Jatuh Bangun Ryanda, Pengusaha Asal Bandung Garap Bisnis Sportswear

INSPIRATOR
Arif Budianto/Kontributor
Minggu, 31 Oktober 2021 12:43 WIB
Indonesia memiliki pangsa pasar yang luar biasa besar di pasar sportswear. Namun, potensi tersebut kurang dimanfaatkan oleh produk dalam negeri.
Cerita Jatuh Bangun Ryanda, Pengusaha Asal Bandung Garap Bisnis Sportswear (FOTO: MNC Media)
Cerita Jatuh Bangun Ryanda, Pengusaha Asal Bandung Garap Bisnis Sportswear (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Indonesia memiliki pangsa pasar yang luar biasa besar di pasar sportswear. Namun, potensi tersebut kurang dimanfaatkan oleh produk dalam negeri, karena pasar dikuasai produk asing. 

Tidak ingin pasar sportswear dikuasai produk asing, pengusaha asal Bandung yang juga Founder Terrel sportswear, Ryanda Ibrahim Luddin berjuang agar produk lokal bisa sejajar dan bahkan diminati masyarakat Indonesia. Bermula dari ketidakrelaannya menjadi penonton di negeri sendiri, dia memilih membuat produk Terrel Sportswear.

"Tahun 2018 saya melihat sebuah kesempatan, karena pada tahun tersebut banyak brand Sportswear, khusus nya gymwear di luar negeri yang mulai bermunculan dan sukses, tinggal menunggu waktu sebelum masuk ke Indonesia." ujar Ryanda Ibrahim Luddin. 

Namun, saat pertama louncing pada 2018 penjualan dari Terrel sportswear sangat tidak bagus. Analisa sekilas pun dilakukan dan diperoleh jawaban bahwa pada saat itu, konsep yang dibawa oleh Terrel belum bisa di terima oleh masyarakat Indonesia.

"Kami coba develop lagi produk dan design baru, tetapi karena di tahun tersebut saya juga punya usaha utama lainnya, yaitu King thai tea (sudah berjalan dari 2012), jadi fokus saya sangat terbagi dan cenderung lebih fokus ke King thai tea sehingga menyebabkan laju Terrel kurang cepat," terangnya.

Ryanda menuturkan, baru di awal tahun 2020 saat King thai tea tutup, mulai fokus ke Terrel. Konsep dan development yang sudah direncanakanan dari tahun 2018 kembali dilanjutkan. Untuk permodalan sempat untuk mencari pendanaan untuk Terrel ke teman-teman, namun pada akhirnya orang tua melakukan investasi.

"Lewat perencaan yang matang, Terrel kembali melakukan rilis lagi di tengah pandemi (bulan Juni 2020) dan mendapatkan animo yang luar biasa dari konsumen, seminggu pertama Terrel jualan semua barang sold out." Tegasnya.

Disinggung produknya yang memilih penjualan secara online, Ryanda menjelaskan bahwa berdasarkan data riset bahwa market online di Indonesia sangat bagus dan terus growth. "Market place menjadi pilihan orang Indonesia untuk berbelanja atas dasar opsi promo dan kepercayaan." Ujarnya.

Selain itu, investasi yang relative lebih murah di awal dan bisa grab market lebih besar ketimbang offline. Ryanda menambahkan, adanya market place seperti Shopee, selain memudahkan kita untuk berjualan, juga meningkatkan persaingan, baik dengan produk local maupun luar negeri, karena semudah konsumen bisa memilih-milih brand atau produk yang sesuai dengan mereka melalui market place. 

"Hal ini menuntut kita untuk selalu kreatif dalam melakukan komunikasi marketing maupun development produk yang sesuai dengan kebutuhan market. Selain itu Design di kembangkan sendiri dengan referensi dari brand-brand luar negeri,” tutupnya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD