sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kena Pecat Saat Pandemi, Lelaki Ini Sukses Menjadi Eksportir Ubi 

Inspirator editor Ary Wahyu Wibowo/Kontri
21/01/2022 10:10 WIB
Kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami Muhammad Choirul Umam justru menjadi lompatan baru bagi kehidupannya.
Kena Pecat Saat Pandemi, Lelaki Ini Sukses Menjadi Eksportir Ubi. (Foto: Tangkapan layar akun YouTube CapCapung)
Kena Pecat Saat Pandemi, Lelaki Ini Sukses Menjadi Eksportir Ubi. (Foto: Tangkapan layar akun YouTube CapCapung)

Baginya, pengaruh sosial media apabila digunakan secara positif bakal sangat berguna. Saat ini, lahan yang dikelola untuk ditanami ubi madu luasnya sekitar 3 hektare.

Dirinya juga menanam cabai dan sayur holtikultura. Hasil panen cabai dikirim ke daerah Sumatera, dan sayuran dijual ke konsumen door to door, dan pengepul. 

Para petani di desanya turut tertarik menanam ubi dan bermitra dengan dirinya karena potensinya sangat menjanjikan. Sebab hasil panen bisa diekspor sendiri ke Singapura. Kerja sama dengan petani menggunakan sistem bagi hasil.

Dikatakannya, perawatan ubi madu sangat mudah karena dari tahap pengolahan lahan ditraktor, dicangkul, dan penanaman. Setelah 1 bulan, selanjutnya dilakukan pendangiran, yakni membalikkan tanaman agar tidak merambat ke yang lain.

Tanaman ubi madu tidak menggunakan pupuk kimia. Sebab tanah merupakan bekas tanaman padi, sehingga banyak jeraminya yang bisa menjadi pupuk yang kandungannya mencukupi untuk kebutuhan tanah.

Hama tanaman ubi madu terhitung tidak ada, sebab tanaman ini bisa mematikan tumbuhan lain, seperti ilalang, dan rumput rumputan. Masa panen ubi madu membutuhkan waktu 3,5 bulan karena yang dibutuhkan adalah spekta yang ukurannya 1 kilogram isi 3-4.

“Kalau terlalu besar jualnya malah susah, paling ke pasar lokal, tukang keripik atau gorengan,” katanya.

Untuk kepentingan ekspor, maka harus mengikuti spesifikasi dari buyer, yakni 1 kilogram isi 3-4. Untuk 1 hektare bisa mendapatkan 24 ton ubi madu.

Sedangkan ubi madu yang diekspor harganya Rp10.000 per kilogram, dari 24 ton, yang lolos ekspor sekitar 10 ton.

“Jika dikalikan Rp10.000, maka bisa mendapatkan Rp100 juta. Jadi petani itu nggak miskin kalua dikelola benar benar,” tuturnya.

Sebelum menanam, diharapkan petani mengetahui pasarnya dahulu. “Saya awalnya dulu lobi lobi ke eksportir, komiditi apa yang bisa diekspor,” katanya.

Untuk menanam ubi madu seluas 1 hektare, dana yang dibutuhkan sekitar Rp12 juta. Rinciannya untuk biaya traktor Rp600.000, mencangkul Rp4 juta, dan biaya tanam dan bibit Rp2 juta, pendangiran Rp4 juta. (TYO)

Halaman : 1 2 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement