AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Keren! Mulai Usaha Sejak Kelas 2 SMA, Gadis Asal Bantul Ini Jadi Juragan Minyak

INSPIRATOR
Taufik Budi/Sindonews
Jum'at, 29 Oktober 2021 09:31 WIB
Siapa yang sangka jika sebuah Pertashop yuang berada di Jalan IKIP PGRI Sonosewu, Kapanewon Kasihan, Bantul dimiliki seorang mahasiswa.
Keren! Mulai Usaha Sejak Kelas 2 SMA, Gadis Asal Bantul Ini Jadi Juragan Minyak. (Foto: MNC Media/taufik budi)
Keren! Mulai Usaha Sejak Kelas 2 SMA, Gadis Asal Bantul Ini Jadi Juragan Minyak. (Foto: MNC Media/taufik budi)

IDXChannel - Siapa yang sangka jika sebuah Pertashop yuang berada di Jalan IKIP PGRI Sonosewu, Kapanewon Kasihan, Bantul dimiliki seorang mahasiswa. Dia adalah Aprilia Nurjayanti (19), dia sudah bermetamorfosa menjadi seorang juragan minyak asal Bantul, Yogyakarta.

Sebelum bergabung dengan Pertashop, Aprilia sudah menjadi juragan minyak sejak usia belia dari Desa Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Saya mulai Kelas 2 SMA membuka Pom Mini atau Pertamini,” kata Aprilia mengawali pembicaraan dengan MNC Media, Jumat (29/10/2021).

Dia mengaku harus menguras tabungan selama bertahun-tahun untuk membangun bisnis pertamanya. Gadis yang saat itu tercatat sebagai pelajar SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta mantab menyampaikan keinginannya kepada orangtua.

“Kedua orangtua langsung mendukung ketika saya ingin membuka Pom Mini. Dan lokasinya itu berada di sebagian lahan yang dipakai usaha tempat cuci mobil dan motor orangtua saya. Alhamdulillah lahan sendiri tidak menyewa,” lugas gadis kelahiran Bantul, 30 April 2002 itu.

“Modalnya sekira Rp16 juta, semua saya ambil dari tabungan. Memang sejak saya kecil orangtua selalu bilang untuk membiasakan menabung. Uang itu untuk membeli mesin dan kulakan BBM (bahan bakar minyak). Saat itu kita jual Pertalite dan Pertamax,” lanjutnya.

Sejak pertama beroperasi, Pom Mini miliknya selalu diserbu masyarakat. Setiap hari rata-rata bisa menjual 200 liter BBM jenis Pertamax dan Pertalite. Dia belum berani kulak BBM dalam jumlah banyak karena mesti mengantre di SPBU dengan jeriken.

Terlebih dia juga harus mengatur waktu untuk mengelola bisnis sekaligus belajar agar prestasi akademik tak jeblok. Anak tunggal itu pun berhasil membuktikan bisa menjalankan unit bisnis dan belajar di sekolah. 

“Untuk kulakan biasanya sama bapak saya. Kita menjual dua produk yaitu Pertalite dan Pertamax. Seiring waktu kabarnya enggak boleh jualan Pertalite secara ecer, lalu kita fokus hanya menjual satu produk yaitu Pertamax aja,” tutur dia. 

"Sebenarnya kalau saya sambil sekolah itu enggak terlalu kesulitan. Saya juga masih bisa belajar. Bahkan sering pula saya belajar di lokasi Pom Mini sambil ngecek-ngecek stok BBM dan melihat kinerja karyawan," ujar perempuan berkerudung itu.

Perjalanannya membangun bisnis BBM semakin menggebu ketika mendapatkan informasi tentang Pertashop. Program ini merupakan komitmen PT Pertamina untuk memacu penyaluran BBM hingga pelosok desa. 

"Meski sebenarnya pada Pom Mini itu saya juga memiliki izin usaha dari tingkat desa dan kecamatan. Tapi setelah dengar ada Pertashop yang merupakan program resmi Pertamina, saya menjadi sangat tertarik," ungkapnya.

Gadis manis itu memilih skema dan spesifikasi Gold dengan investasi Rp250 juta. Pada skema ini membutuhkan lahan seluas 210 meter persegi, sesuai luasan Pom Mini yang selama ini beroperasi.

"Saya cari-cari informasi dari temen-temen dan website, hingga pada 25 September kemarin saya akhirnya bisa membuka Pertashop di lokasi pendirian Pom Mini itu," katanya bangga.

"Ini di lokasi juga ditambah fasilitas toilet, musala, dan minimarket agar konsumen lebih nyaman," imbuhnya.

Berbeda dengan pembuatan Pom Mini yang modalnya ditanggung sendiri dari uang tabungan, kini untuk Pertashop Aprilia mesti meminta bantuan orangtua. Uang tabungan dan laba berjualan BBM selama kurang-lebih tiga tahun masih belum cukup.

"Untuk modal dari tabungan saya dan dibantu oleh orangtua, tapi saya memiliki keinginan untuk mengembalikan (modal pinjaman itu) ke orangtua. Meskipun orangtua juga tidak mengharapkan. Jumlahnya ya di atas Rp100 juta, tapi saya optimistis bisa mengembalikan dua tahun ini. Insya Allah bisa, bismillah," katanya meyakinkan.

Keberadaan Pertashop di Jalan IKIP PGRI Sonosewu, Kapanewon Kasihan, Bantul itu menarik perhatian masyarakat. Apalagi pada saat awal beroperasi, Aprilia menggratiskan bahan bakar nonsubsidi. Setiap kendaraan bisa mengisi BBM jenis Pertamax hingga Rp15.000.

"Sekarang ini penjualan alhamdulillah rata-rata 700 liter per hari. Bahkan tertinggi kemarin itu bisa 900 liter. Jam operasional mulai 06.30 WIB sampai 22.00 WIB. Sekarang karyawan ada dua orang, dulu sewaktu Pom Mini hanya satu orang," ucap dia.

"Lokasi kita juga strategis dekat dengan jalan raya alternatif, dekat dengan kampus, dan rumah-rumah warga, dan beberapa pabrik," terang mahasiswi Jurusan Manajemen Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu.

Dengan keilmuan manajemen bisnis dari kampus, dia berharap bisa mengelola usaha lebih profesional. Gadis yang gemar bersepeda itu ingin bisnisnya berkembang dan memiliki sejumlah SPBU di beberapa kota. 

"Semoga terkabul (memiliki SPBU di tiap kota), itu impian besar ke depan ya. Anak muda jangan takut untuk memulai usaha. Manfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya jangan takut dahulu sebelum mencoba, jangan takut gagal," pesannya. 

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho, menyampaikan, Pertashop saat ini menjadi pilihan bisnis yang menjanjikan bagi pengusaha. Pertashop bukan hanya untuk menjamin masyarakat bisa mendapatkan bahan bakar berkualitas, tetapi juga menjadi peluang usaha bagi pengusaha lokal dan pemerintah desa untuk terjun di industri hilir migas.

"Pertashop saat ini sudah ada 642 untuk wilayah Jateng-DIY," sebutnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD