"Sudah empat tahun terakhir ini kami mewisuda banyak sekali lulusan. Di antaranya ada yang sudah kerja di bank, ada yang sudah bisa kerja di perusahaan startup," beber Andien.
Keberhasilan itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Andien. Pasalnya, anak-anak yang semula terbiasa membantu orang tuanya memulung sampah kini memiliki wawasan dan peluang karier yang jauh lebih luas.
"Aku senang sekali ketika bisa memaparkan berbagai jenis profesi lainnya, dan mereka jadi bisa kepikiran untuk melamar di jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka," jelasnya.
Lebih lanjut, Andien menegaskan bahwa stigma biaya mahal bukan satu-satunya alasan anak kurang mampu putus sekolah.
Masalah ongkos transportasi dan seragam kerap jadi beban, sehingga ia memilih mendirikan ruang belajar langsung di tengah permukiman mereka.