Selain memberikan pengalaman edukatif, menurut Memes, pengalaman ini juga memperlihatkan fasilitas Istana yang ramah bagi penyandang disabilitas.
“Sarana dan prasarana di Istana Negara luar biasa. Ternyata lingkungan di sini inklusif. Teman-teman disabilitas, mulai dari yang netra, dari yang teman Tuli atau Rungu, Grahita, Daksa, semuanya ada aksesnya di sini, mulai dari jalannya, terus ada di toiletnya pun, ada railnya juga. Jadi benar-benar Istana Negara ini ramah disabilitas,” katanya.
Melalui program “Istana untuk Anak Sekolah”, Istana Kepresidenan tidak hanya menjadi tempat mengenal sejarah dan pemerintahan, tetapi juga ruang belajar yang menghadirkan pengalaman bermakna dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Serta menguatkan keyakinan bahwa setiap anak Indonesia, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, berprestasi, dan menjadi bagian dari masa depan bangsa.
(Nadya Kurnia)