AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Pernah Jadi Pemulung, Perempuan Ini Kini Punya Usaha Kuliner dan Fesyen

INSPIRATOR
Zia Nasution
Kamis, 23 September 2021 09:09 WIB
Yoanisa Adhani Nasution kini memiliki usaha kuliner dan butik.
Yoanisa Adhani Nasution kini memiliki usaha kuliner dan butik. (Foto: Zia Nasution)
Yoanisa Adhani Nasution kini memiliki usaha kuliner dan butik. (Foto: Zia Nasution)

IDXChannel - Nasib orang memang tak bisa ditebak karena roda kehidupan selalu berputar. Hal ini mungkin sedikit menyiratkan kisah hidup Yoanisa Adhani Nasution. Yoan-sapaan akrabnya merupakan gadis muda cantik yang kini menjadi pengusaha kuliner di Kota Padangsidimpuan, Sumatra Utara. Mungkin tak banyak yang tahu, gadis yatim ini pernah jadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Malam itu, seperti biasa, Yoan terlihat sibuk menyiapkan pesanan dari pelanggan yang datang atau singgah ke tempat usahanya di Jalan Sudirman eks Merdeka, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan. Senyumnya langsung terpancar ketika menjumpai para pelanggan. Saat ditemui, putri dari almarhum Bachtiar Nasution dan almarhumah Latifah Pohan ini langsung keluar air mata begitu mulai bercerita tentang hidupnya.

Dia menuturkan pernah menjadi seorang pemulung pada 2005 di Padangsidimpuan. Kisah tersebut berawal saat bungsu dari empat bersaudara ini duduk di bangku kelas III Sekolah Dasar (SD).

Masa kecil Yoan tidak sama dengan anak seusianya. Bagaimana tidak, pada saat teman-temannya bermain, Yoan lebih memilih pergi mencari barang-barang bekas seperti gelas air mineral selepas pulang sekolah. 

Yah, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Yoan harus banting tulang menjadi seorang pemulung. Pekerjaan ini dia geluti selama 1 tahun

“Maksimal hasilnya saat itu 2 kilogram, kalau dirupiahkan hanya Rp2.000,” ujarnya mengenang masa lalu, Selasa (21/9/2021). Kesulitan hidupnya semakin bertambah ketika ayahnya sakit dan ibunya memutuskan berpisah.

Namun, kala itu Yoan lebih memilih tinggal bersama ayahnya agar bisa membantu merawat. Kepahitan hidup Yoan semakin bertambah, ketika teman-teman sekolahnya kerap membully. Hampir setiap hari dia harus menerima cemoohan dari teman-teman di sekolah. "Mereka bully karena kedua orang tua saya pisah, terutama pada saat ayah jatuh sakit," katanya.

Namun, Yoan tidak pernah berkecil hati. Bahkan, sikap yang diterimanya tersebut menjadi modal agar lebih bisa lebih baik daripada orang yang membullynya. "Kalau sekarang ketemu, saya perlakukan mereka dengan baik. Itukan masa anak-anak," ucapnya. 

Setelah ayahnya meninggal pada 2008, Yoan yang masih berusia 11 tahun dirawat  saudaranya. Namun, dengan berbagai alasan, dia pindah ke rumah ibu. 

"Amanah almarhum ayah, saya bisa satu tempat tinggal bersama ibu, kalau ayah sudah meninggal dunia," kata gadis yang punya hobi menari tersebut. Saat duduk di bangku SMP, dia mulai menekuni tari-tarian. Kebetulan, salah seorang anggota keluarganya memberikan kesempatan untuknya agar ikut berlatih menarih dan mengikuti sejumlah perlombaan di Kota Padangsidimpuan.

Bakat Yoan Nasution untuk menjadi pengusaha sudah terlihat sejak dia masih sekolah. Dia nekat mengumpulkan uang jajannya untuk membuka usaha. Dimulai pada tahun 2014. Saat itu, dia harus mengumpulkan uang sebanyak Rp3 juta selama 1 tahun demi membuka usaha jualan kembang api. 

Namun, usaha tersebut bersifat musiman seperti, pada puasa Ramadan dan tahun baru. Tak berhenti di situ, pada 2018, Yoan lalu membuka usaha jasa delivery yang diberi nama Mangalappataru. Dengan modal Rp200.000, dia bisa menghasilkan uang Rp150.000-200.000 per hari. Untuk mengembangkan usaha tersebut, dia harus bekerja sama dengan banyak jenis usaha. Bahkan, dia menjual produk-produk dari Kota Medan.

"Alhamdulillah, penghasilan bersih setiap harinya Rp150.000-200.000 per hari," katanya. 

Dengan kerja kerasnya, usaha Yoan semakin berkembang lalu membuat usaha kuliner ceker ayam pedas. Awalnya, dia menjalankan usaha tersebut dari rumah dengan menampung pesanan dari masyarakat. 

"Selanjutnya, saya membuka usaha kuliner bernama 'Mak Yon' di Jalan Sudirman, tepatnya di simpang lampung merah tidak jauh dari Alaman Bolak Kota Padangsidimpuan," ujarnya. 

Tak heran, saat ini dari usaha kuliner Mak Yon, dia bisa menghasilkan uang Rp1-2 juta per malam. Akhirnya, di tahun 2021, Yoan sudah membuka usaha butik. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD