Tak hanya itu, Djagad juga menilai bahwa komitmen penyelesaian tantangan historis masa lalu tersebut merupakan bentuk penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya Perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis ke depan.
Langkah penguatan tersebut, Djagad menjelaskan, menjadi bentuk strategi Perseroan dalam memanfaatkan tren positif keberhasilan KAEF dalam membalikkan posisi neraca keuangan, dari semula masih menderita kerugian, kini mulai berbalik untung sejak triwulan I-2026 lalu.
Tren positif tersebut datang dari capaian laba bersih KAEF pada tiga bulan pertama 2026 yang tercatat sebesar Rp123,63 miliar, dari posisi semula rugi di sepanjang 2025 lalu.
"Capaian positif ini membuktikan bahwa restrukturisasi keuangan yang sudah kami jalankan sejak dua tahun lalu, berikut transformasi model bisnis yang lebih ramping dan efisien, telah berjalan di jalur yang tepat," ujar Djagad.
Guna terus melanjutkan tren positif tersebut, menurut Djagad, pihaknya pun fokus dalam mendorong upaya transformasi bisnis dari hulu hingga ke hilir. Di level hulu misalnya, langkah transformasi dilakukan dengan memangkas ketergantungan terhadap pasokan bahan baku impor, melalui pengoptimalan Bahan Baku Obat (BBO) lokal.