“Namun kami perlu mengingatkan bahwa proses ini sebagian besar bersifat kualitatif, dengan keputusan akhir tetap berada pada tinjauan klasifikasi pekan depan,” ujar Wilbert, Jumat (19/6/2026).
Ia menambahkan, dalam siklus terbaru MSCI hanya satu indikator yang berubah, yakni information flow dalam kategori organisasi pasar, yang diturunkan dari “+” menjadi “-” akibat kekhawatiran transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi aktivitas perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga. Namun ia menilai isu tersebut bukan hal baru dan sudah sesuai ekspektasi pasar.
“Kami menilai tidak adanya deteriorisasi yang lebih luas sebagai sinyal yang lebih penting,” tulis Wilbert.
Menurut Wilbert, kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan Indonesia turun ke frontier market belakangan kembali meningkat, terutama dipicu penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI. Namun ia menilai kekhawatiran tersebut berlebihan.
Ia menyoroti bahwa dalam penilaian MSCI sendiri, Indonesia masih memperoleh skor tertinggi pada aspek kepemilikan asing, bahkan lebih baik dibanding China dan India yang masih masuk daftar negara dengan catatan perbaikan.