Di balik kinerja solid tersebut, lini bisnis fintech menjadi sorotan. Analis MNC Sekuritas Christian Sitorus dalam risetnya menyebut, untuk pertama kalinya segmen fintech menjadi penyumbang EBITDA terbesar bagi GOTO, melampaui lini On-Demand Services (ODS).
Pada kuartal II-2026, EBITDA yang disesuaikan dari bisnis fintech tercatat sebesar Rp481 miliar atau tumbuh 447 persen secara tahunan.
Kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan Gross Transaction Value (GTV) Grup sebesar 78 persen, kenaikan pendapatan bersih 31 persen, serta 71 juta pengguna yang bertransaksi secara tahunan.
Christian menilai fundamental bisnis fintech GOTO masih terjaga. Portofolio pinjaman perseroan meningkat menjadi Rp11 triliun atau tumbuh 58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah transaksi mencapai 2,4 miliar atau melonjak 91 persen secara tahunan.
Terkait bisnis pinjaman, manajemen GOTO mulai mengantisipasi potensi perlambatan makroekonomi. Meski demikian, kualitas aset dinilai tetap stabil dan perseroan masih optimistis dapat mempertahankan target pertumbuhan pinjaman di atas 30 persen.