Bahkan, dalam lima hari selama periode 13-21 Mei 2026, saham TPIA berulang kali menyentuh auto rejection bawah (ARB) 15 persen.
Secara mingguan, saham TPIA sudah merosot 58,37 persen dan tergelincir 70,25 persen dalam sebulan. Padahal, saham ini sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp11.200 per saham pada 7 Agustus 2024.
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai tekanan terhadap TPIA dipicu potensi keluarnya saham tersebut dari indeks MSCI setelah perubahan data kepemilikan saham yang dibuka oleh BEI membuat kapitalisasi pasar free float perseroan tidak lagi memenuhi ambang batas indeks global tersebut.
“TPIA akan keluar dari indeks MSCI karena jumlah shareholders di atas 1 persen yang dibuka oleh BEI membuat market cap free float tidak memenuhi threshold,” ujar Michael, Kamis (21/5/2026) pekan lalu.
Dia memperkirakan keluarnya TPIA dari indeks MSCI berpotensi memicu arus dana keluar (outflow) sekitar Rp2 triliun dari investor pasif global.