Menurut Anindya, volatilitas IHSG maupun pelemahan nilai tukar rupiah merupakan konsekuensi dari kondisi pasar keuangan global yang saling terhubung. Karena itu, fluktuasi jangka pendek dinilai sebagai hal yang wajar selama fundamental ekonomi tetap terjaga.
"Pada akhirnya yang akan menentukan itu adalah fundamental dalam jangka panjang. Fluktuasi itu biasa, tidak boleh dianggap enteng, tapi itu adalah bagian daripada pasar global, pasar yang likuid, dan pasar yang dinamis," ujarnya.
Dia mengatakan fokus pemerintah dan dunia usaha saat ini lebih baik ke arah menjaga pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi, memperkuat konsumsi domestik, meningkatkan ekspor dan impor, serta mendorong investasi, baik penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam negeri.
Dia juga mengingatkan bahwa berbagai gejolak di pasar tidak boleh mengaburkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir tetap berada di kisaran 5 persen dengan inflasi yang terjaga rendah di kisaran 2 persen, disertai penciptaan sekitar 800 ribu lapangan kerja pada kuartal pertama tahun ini.
Anindya meyakini konsistensi menjaga fundamental tersebut pada akhirnya akan mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.