AALI
8900
ABBA
232
ABDA
6025
ABMM
4650
ACES
625
ACST
210
ACST-R
0
ADES
7200
ADHI
800
ADMF
8525
ADMG
168
ADRO
4050
AGAR
302
AGII
2520
AGRO
640
AGRO-R
0
AGRS
102
AHAP
109
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1605
AKRA
1400
AKSI
324
ALDO
705
ALKA
294
ALMI
380
ALTO
177
Market Watch
Last updated : 2022/09/23 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
541.91
-0.84%
-4.57
IHSG
7178.58
-0.56%
-40.32
LQ45
1025.63
-0.68%
-7.01
HSI
17933.27
-1.18%
-214.68
N225
0.00
-100%
-27313.13
NYSE
0.00
-100%
-14236.60
Kurs
HKD/IDR 1,912
USD/IDR 15,030
Emas
805,406 / gram

AS Minta Perbankan Ikut 'Keroyok' Rusia Soal Batasan Harga Minyak

MARKET NEWS
Tim IDXChannel
Jum'at, 23 September 2022 17:51 WIB
pihak AS kini mengusulkan keterlibatan perbankan untuk juga mendukung dan memperkuat pemberlakuan batasan harga yang ditentang oleh pihak Rusia tersebut.
AS Minta Perbankan Ikut 'Keroyok' Rusia Soal Batasan Harga Minyak (foto: MNC Media)
AS Minta Perbankan Ikut 'Keroyok' Rusia Soal Batasan Harga Minyak (foto: MNC Media)

IDXChannel - Amerika Serikat (AS) rupanya belum juga puas telah berhasil mendorong negara-negara G7 untuk bersepakat membatasi harga minyak hasil produksi Rusia yang bakal dilepas ke pasar internasional.

Seolah masih khawatir, pihak AS kini mengusulkan keterlibatan perbankan untuk juga mendukung dan memperkuat pemberlakuan batasan harga yang ditentang oleh pihak Rusia tersebut. Jika menolak, sanksi sekunder bakal menanti.

Adalah kelompok senator dari Partai Demokrat dan Republik yang mengusulkan adanya sanksi sekunder yang bakal dijatuhkan pada bank-bank internasional yang dianggap tidak kooperatif dalam upaya pembatasan harga minyak tersebut.

Keterlibatan kalangan perbankan dinilai penting dan wajib guna mempersulit Rusia untuk bisa menghindar dari batasan harga yang telah dibuat, dengan membuat kesepakatan sendiri bersama negara-negara di luar keanggotaan G7.

“Jika ingin menetapkan batas harga minyak Rusia di seluruh dunia, maka Anda perlu memastikan bahwa itu diterapkan secara seragam. Untuk melakukannya, Anda perlu menerapkan cadangan sanksi sekunder, berupa kerangka undang-undang yang akan menargetkan lembaga keuangan," ujar Senator Demokrat, Chris Van Hollen, sebagaimana dilansir Reuters, Rabu (21/9/2022). 

Namun, pemerintah AS di bawah kepemimpinan presiden Joe Biden diperkirakan enggan menjatuhkan sanksi sekunder, karena khawatir langkah tersebut dapat memperumit hubungan dengan importir minyak Rusia, seperti China dan India. 

“Saya pikir Presiden membutuhkan otoritas baru dari Kongres untuk memberlakukan batas harga pada siapa saja yang membeli minyak dari Rusia dengan harga di atas batas yang telah ditetapkan atau dalam volume yang meningkat secara signifikan," ujar Senator Republik, Pat Toomey, dalam laporan tersebut. 
 
Salah satu pejabat Kementerian Keuangan A.S, Eizabeth Rosenberg, mengatakan bahwa pembatasan harga merupakan alat yang ampuh untuk memukul Rusia dan menstabilkan kembali harga energi di level internasional.

“Batas harga yang kami yakini akan memiliki efek yang kuat dalam melakukan beberapa hal, tentu saja dalam contoh pertama menolak pendapatan Rusia untuk mendanai perangnya," ujar Rosenberg.

Departemen Keuangan AS telah mengatakan bahwa siapa pun yang memalsukan dokumentasi atau menyembunyikan asal atau harga minyak Rusia akan menghadapi konsekuensi di bawah hukum yurisdiksi domestik.
 
Sementara itu, kelompok negara G7 mengumumkan rencana pembatasan harga untuk membatasi pendapatan ekspor minyak Rusia yang menguntungkan setelah invasi. Beberapa negara telah melarang impor minyak mentah dan bahan bakar Rusia. (TSA)

Penulis: Bayu Rama

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD