Defisit pasokan juga telah terlihat pada paruh pertama 2026. Pasar timah global mencatat defisit sekitar 5,7 ribu ton atau setara dengan 3,3 persen dari permintaan. BCA Sekuritas memperkirakan defisit tersebut berlanjut sepanjang 2026 hingga mencapai sekitar 8,1 ribu ton.
Dengan pertumbuhan permintaan yang terus melampaui pasokan inkremental, harga timah diperkirakan tetap berada di atas USD50.000 per ton sepanjang tahun dan menjadi katalis positif bagi kinerja TINS.
Volume Penjualan Mulai Pulih
Selain harga, prospek TINS juga ditopang oleh pemulihan volume penjualan. Ekspor timah Indonesia pada Juni 2026 tercatat mencapai 3,2 ribu ton, meningkat dari 2,5 ribu ton pada Mei 2026.
Pemulihan volume tersebut membuat BCA Sekuritas menilai TINS berada pada posisi yang baik untuk menikmati harga timah yang tinggi, sekaligus tetap menjaga disiplin biaya.
BCA Sekuritas memperkirakan cash cost TINS berada di bawah USD25.000 per ton. Dengan asumsi harga timah sekitar USD50.000 per ton, perusahaan dinilai memiliki ruang margin yang kuat.