Bagikan Voucher Belanja, Inggris Siapkan 30 Miliar Poundsterling Hadapi Covid-19

Market News
Shifa Nurhaliza
Senin, 06 Juli 2020 14:00 WIB
Sumber The Guardian menyebut, Inggris siap mengeluarkan dana sekitar 30 miliar poundsterling untuk menjalankan kebijakan tersebut.
Bagikan Voucher Belanja, Inggris Siapkan 30 Miliar Poundsterling Hadapi Covid-19. (Foto: Ist)

IDXChannel – Melihat situasi perekonomian yang terpuruk akibat pandemi Covid-19, Inggris mempertimbangkan kebijakan voucher belanja senilai 500 poundsterling atau setara Rp9 juta untuk orang dewasa dan 250 pounds, setara Rp4,5 juta untuk anak-anak. Nantinya voucher tersebut bisa digunakan untuk belanja di toko-toko yang terdampak pandemi Covid-19.

Voucher tersebut untuk dibelanjakan di sektor-sektor ekonomi yang paling terpukul oleh krisis Covid-19. Usulan yang berasal dari lembaga thinkthank Resolution saat ini sedang dipertimbangkan oleh Departemen Keuangan Inggris.

Dilansir The Guardian, pada Senin (6/7/2020),Menteri Keuangan Inggris, Rishi Sunak mengatakan, ini ditujukan untuk memulai pemulihan ekonomi dengan memicu lonjakan konsumsi masyarakat yang sangat ditargetkan. Voucher ini hanya berlaku untuk sektor-sektor tertentu. Misalnya, hotel atau toko ritel offline sementara e-commerce tidak akan kebagian voucher tersebut.

Program ini mirip dengan skema yang dijalankan oleh beberapa negara seperti China, Taiwan, dan Malta. Pada April 2020, pemerintah Wuhan menggelontorkan 500 juta yuan untuk voucher belanja yang bisa dipakai di restoran, mal, gerai toko, acara budaya, hingga pertunjukan olahraga dan wisata.

Sumber The Guardian menyebut, Inggris siap mengeluarkan dana sekitar 30 miliar poundsterling untuk menjalankan kebijakan tersebut. Direktur Riset Resolution Foundation, James Smith mengungkapkan bahwa program itu lebih efektif daripada pemangkasan PPN atau pemberian uang tunai dari negara kepada masyarakat yang juga telah dipertimbangkan di Whitehall.

"Social distancing memiliki dampak besar bagi sektor-sektor seperti ritel, hotel, turisme, dan wisata. Inilah mengapa pekerjaan di sektor-sektor ini sulit bangkit," ujar Smith.

Aktivitas ekonomi di sektor perhotelan turun lebih dari 90% pada April dan ada kekhawatiran bahwa banyak sektor akan terus terkena dampak buruk sementara jarak sosial tetap ada. Di Jerman dan Prancis, di mana pembatasan kuncian telah mereda, liburan dan perjalanan ritel tetap lebih dari 10% turun pada tingkat sebelum krisis. (*)

Baca Juga