“Tiga empat tahun terakhir payout 40 persen dan dividend yield 6-7 persen. Ini tergolong high yield karena lebih tinggi dari bunga deposito. Valuasi di 0,38x Price to Book Value (PBV) juga di bawah rata-rata valuasi peers di 0,6-0,7x PBV. Artinya potensi upsidenya masih tinggi," kata Kharel.
Terkait dividen, Kharel memprediksi bahwa TUGU mampu mempertahankan rasio pembayaran dividen (Dividend Payout Ratio) tetap di 40 persen. Sementara menurutnya laba bersih yang berpotensi dikantongi TUGU secara konsolidasi berpotensi tetap di atas Rp700 miliar.
“Kalau dilihat dari tren laba per segmen, dividen tunai setidaknya bisa di Rp291 miliar atau setara Rp82 per saham. Dengan harga sekarang yield bisa tembus 8,2 persen. Ini sangat atraktif. Ini bisa menjadi katalis positif untuk saham TUGU. Jika dalam short term sentiment masih volatile setidaknya kalaupun tidak rebound expect saham TUGU lebih stabil," katanya.
Menurut Kharel, TUGU berpotensi mengantongi laba bersih secara konsolidasi sebesar Rp715-738 miliar untuk tahun buku 2025. Hal ini mempertimbangkan segmen asuransi umum yang sudah mengantongi laba Rp575 miliar dan segmen reasuransi dengan laba Rp172 miliar per Desember 2025.
Estimasi tersebut juga turut mempertimbangkan laba segmen usaha non asuransi umum dan reasuransi yang menyumbang 7-8 persen dari total laba TUGU serta adanya faktor penyesuaian dan eliminasi saat dilakukan konsolidasi.
(kunthi fahmar sandy)