Sistem ini sebelumnya sempat memicu perbincangan hangat karena beberapa emiten di BEI, termasuk emiten yang tadinya digadang-gadang masuk ke dalam daftar indeks global semacam FTSE, yang dianggap bisa terpengaruh status kelayakannya sebagai anggota indeks.
Aturan FCA dipandang punya celah yang bisa menekan tingkat likuiditas sekaligus mendongkrak volatilitas transaksi, khususnya untuk saham-saham di papan pemantauan khusus.
Pada akhirnya, kondisi ini dikhawatirkan berimbas pada rapor penilaian dari lembaga penyedia indeks global.
Jeffrey tidak menutup peluang bahwa mekanisme ini bisa saja dirombak, bahkan ada kans untuk mengembalikannya ke format transaksi reguler atau perdagangan berkelanjutan (continuous trading). Biarpun begitu, dirinya menggarisbawahi bahwa prioritas otoritas bursa saat ini adalah menjalankan kajian komprehensif terkait FCA tersebut.
“Sangat mungkin. Tapi poinnya adalah FCA akan direview,” tegasnya.
Mengenai fokus evaluasinya nanti, Jeffrey mengisyaratkan bahwa perombakan yang bakal diterapkan ke depannya cenderung mengarah pada pemangkasan sejumlah kriteria, bukan malah memperbanyaknya.