Perseroan bersama perusahaan afiliasi resmi menandatangani perjanjian pada 2025. Isinya memberikan pinjaman dengan tenor 1 tahun dan bunga 11 persen. Tujuan sebagai bridging loan untuk operasional.
Satria mengatakan, penetapan bunga pinjaman sebesar 11 persen mengacu pada tingkat bunga pinjaman komersial yang berlaku di pasar. Dalam hal ini, perseroan mempertimbangkan prinsip kewajaran (arm's length principle) agar bunganya tidak lebih rendah daripada tingkat bunga pasar.
Satria juga menegaskan bahwa perseroan akan menggunakan dana IPO tersebut sesuai dengan prospektus. Perseroan tidak mengungkapkannya dalam prospektus dengan dalih bahwa transaksi pinjaman tersebut hanyalah kebijakan internal dan tidak mengubah tujuan dari penggunaan dana IPO.
Sebagai bentuk komitmen, perseroan juga telah membayar uang muka pembangunan gedung RS sebesar Rp20,25 miliar (nilai kontrak Rp35 miliar) serta uang muka untuk membeli CT-Scan sebesar Rp3 miliar (nilai kontrak Rp5 miliar). Hal ini mencerminkan bahwa dana IPO diarahkan sesuai janji dalam prospektus.
Perseroan juga menjelaskan soal perubahan vendor kontraktor pembangunan gedung dan peralatan medis CT-Scan. Untuk kontraktor, proyek diberikan kepada PT Citra Adiatama Indonesia, sedangkan peralatan medis diberikan kepada PT Rapha Tunas Medika.